3 pasangan di pilgub Jakarta (foto),
Pengamat politik-ekonomi Ichsanuddin Noorsy menilai pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni mewakili hal-hal yang tidak ditemui pada Gubernur DKI Jakarta Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, yang akan bersaing di Pilkada DKI.

Berbeda dengan Ahok yang dikenal dengan karakter keras, Agus-Syilvi mencerminkan orang-orang yang bisa bernegosiasi.

"Posisi Sylvi merepresentasikan Islam, perempuan dan birokrat DKI yang gelisah dengan perilaku Ahok", kata Noorsy kepada Antaranews, Selasa (27/9).

Perempuan yang pernah jadi Walikota Jakarta Pusat itu, menurut Noorsy mampu bersikap netral dan bisa tawar-menawar dengan situasi.

“Itu modal besar dan penyumbang terbesar bagi Agus”, katanya.

Sementara Agus, yang memiliki latar belakang ketentaraan, menggambarkan kualitas kepemimpinan.

Sosok yang memiliki tiga gelar master ini tumbuh besar di bawah didikan Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono, yang dinilai membuat Agus menjadi orang yang bisa mengadopsi serta mengadaptasi situasi.

"Agus-Sylvi adalah gambaran masyarakat yang tidak fanatik agama, tetapi juga beragama", katanya.

Di sisi lain, Ichsanuddin berpendapat Ahok punya kelemahan terkait hal ini.

“Dia tidak mampu membangun sinergi muslim dan nonmuslim, sementara kekuatan Agus-Sylvi bisa mensinergikan keduanya”, lanjutnya.

Sedangkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, dinilai Noorsy belum mencerminkan sosok keagamaan yang kental.

Selain itu, selama ini Ahok dinilai telah menampilkan sosok yang memusuhi masyarakat bawah.

Hal tersebut yang menimbulkan simpati dari kalangan tertentu untuk membela masyarakat bawah, meski belum tentu mereka sepenuhnya benar dalam posisi hukum.

"Ahok sedang mengakumulasi kebencian masyarakat secara struktural terhadap dirinya", katanya.

Kebencian yang tertuju pada individu itu dinilai bisa berdampak pada PDIP, Golkar, Nasdem dan Hanura yang mengusung Ahok.

Empat partai itu disebut sedang mengambil jarak psikologis dengan masyarakat Jakarta yang berbahaya untuk kans di pemilu 2019.

“Dalam bahasa sederhana, empat partai itu sedang membenarkan ‘divided society’, mereka bukan lagi penghimpun aspirasi, tetapi pemecah belah aspirasi”, imbuh Noorsy. (Antaranews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.