Gubernur Mekkah (foto),
Prosesi ibadah haji di tanah suci telah berakhir pada hari Kamis (15/9) dengan lancar terkendali. Tidak ada insiden berarti yang mengganggu jalannya ibadah rutin tahunan umat Islam dari seluruh dunia.

Meski demikian, perseteruan panas berkaitan dengan penyelenggaraan haji masih berlanjut, melibatkan negara yang tidak ikut serta, yaitu Republik Syi'ah Iran, dengan negara penyelenggara, Arab Saudi.

Gubernur provinsi Mekkah, Pangeran Khalid al-Faisal, menanggapi kritik Iran atas penyelenggaraan haji oleh Saudi. Ia juga mendesak agar Teheran mengakhiri apa yang disebutnya sikap tak benar pada bangsa Arab.

Bahkan, Pangeran memperingatkan setiap upaya show force yang memancing perseteruan dengan kerajaan Arab Saudi.

Melalui sambutan yang dinilai ditujukan pada Iran (secara tak langsung), Pangeran Khalid menyampaikan bahwa kelancaran ibadah haji tahun ini telah membungkam "semua tuduhan bohong dan fitnah yang dilakukan pada Saudi".

"Saya berdoa kepada Allah azza wa jalla agar membimbing serta mencegah mereka dari melakukan pelanggaran dan perbuatan yang salah kepada sesama Muslim, diantaranya (pada) orang-orang Arab yang ada di Irak, Suriah, Yaman dan di seluruh dunia", kata Pangeran Khalid seperti dikutip SPA.

"Tapi kalau mereka (Iran) sedang mempersiapkan pasukannya untuk menyerang, maka kami tidak akan mudah ditundukkan oleh mereka yang ingin memerangi kami", tegasnya.

"Ketika kami telah bertekad, dan atas bantuan Allah azza wa jalla, kami akan menghadang setiap agresor. Tidak ada penyesalan (dalam tugas) untuk melindungi tanah suci maupun negeri tercinta ini. Tak ada yang bisa mengotori jengkal-jengkal negeri kami selama kami ada di atasnya", lanjut Khalid.

Belum ada pemimpin Iran yang menyerukan perang terhadap Arab Saudi. Sementara konfrontasi kedua negara memang tak diinginkan oleh banyak pihak.

Perseteruan antara Arab Saudi yang bermazhab Sunni-Hambali dengan Republik Syi'ah Iran mulai memanas setelah tragedi Mina pada musim haji 1436 H/2015 lalu.

Namun hubungan diplomatik kedua negara betul-betul hancur pasca Kedutaan Saudi di Teheran dibakar oleh massa Syi'ah pada awal Januari.

Mereka marah atas eksekusi Nimr al-Nimr, seorang tokoh Syi'ah di Saudi yang dihukum mati atas kasus terorisme dan provokasi minoritas Syi'ah setempat.

Pasca eksekusi Nimr, pihak Garda Revolusi Iran juga bersumpah akan melakukan "balas dendam dengan keras" atas kematian al-Nimr.

Sedangkan pemutusan hubungan diplomatik menyebabkan masalah baru mengenai pengelolaan kuota haji Iran, Saudi saat itu menjamin pemutusan tak akan merembet ke masalah haji.

Negosiasi alot masalah pengelolaan dilakukan oleh kedua negara, melalui beberapa pertemuan pada Mei lalu, hal-hal teknis seperti tempat pengurusan visa dan penerbangan disepakati.

Namun akhirnya buntu, karena Riyadh menolak tuntutan Teheran yang meminta jaminan keamanan bagi warganya, termasuk aksi demonstrasi di musim haji. Sebuah permintaan yang dianggap tidak masuk akal.

Baru-baru ini Iran kembali mengungkit-ungkit musibah Mina ada tahun 2015 dan menuduh ketidakmampuan Saudi serta menuntut internasionalisasi pengeloaan tanah suci.

Bahkan pemimpin tertinggi Iran dan kaum Syi'ah, Ayatollah Ali Khamenei pada 5 September mengatakan jika Arab Saudi telah "membunuh" warga Iran pasca tragedi Mina.

Saudi menganggap Republik Syi'ah itu telah melakukan politisasi haji untuk menyudutkan kerajaan.

"Kerajaan dengan tegas menolak ibadah haji dibawa ke ranah politik", kata Raja Salman.

Adapun warga Syi'ah Iran yang gagal ke tanah suci umat Islam tahun ini, banyak dari mereka akhirnya memilih lokasi "haji alternatif" dengan melakukan ritual ziarah ke kuburan Husein di Karbala, Irak.

Mereka yakin mendatangi kuburan tersebut setara dengan 70 kali (versi lain > 1000 kali lipat) melakukan haji di Mekkah. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.