2 tokoh padepokan bermasalah dibekuk polisi (foto),
Ada 2 peristiwa mirip yang terjadi di Indonesia dalam satu bulan belakangan ini, yaitu ditangkapnya 'pemimpin spiritual' padepokan berkedok Islam, namun diduga kuat menyimpan segudang penyimpangan dalam praktiknya.

Yang pertama adalah tertangkapnya Gatot Brajamusti di Lombok atas kasus narkoba. Gatot bukan nama asing, ia cukup dikenal publik karena mengorbitkan dirinya untuk berpengaruh di dunia hiburan.

Tak main-main, Gatot berhasil menjaring pengikut dari kalangan selebritis, dengan sebutan sebagai "guru spiritual" para artis, sejak satu dekade lalu.

Bahkan sukses menduduki jabatan ketua PARFI, Persatuan Artis Film Indonesia. Lalu sempat terjun langsung memproduksi film, walaupun akhirnya gagal total di pasaran.

Di padepokannya, Gatot disebut suka mengajarkan hal-hal ganjil. Seperti menghisap Shabu-Shabu yang dikatakannya sebagai aspat dan bagian ritual mistis "makanan Jin", juga berujung pada perbuatan cabul dan pesta seks.

Seperti dilansir Antaranews, penyanyi Reza Artamevia yang bersama Gatot saat ditangkap di Lombok, kepada polisi mengaku bahwa Gatot Brajamusti sering menggelar ritual pesta seks dengan para pengikut padepokannya.

"Hasil pemeriksaan Reza memperkuat dugaan yang dilaporkan terhadap Gatot terkait pemerkosaan", kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono, Selasa (27/9).

Awi mengungkap, keterangan Reza menyebut ada dugaan perilaku menyimpang yang dilakukan Gatot terhadap pengikutnya.

Saat melakukan pencabulan itu, terindikasi jika Gatot mengawalinya dengan menghisap Shabu-Shabu dengan istilah "aspat".

Menurut keterangan saksi dan asistennya, Gatot menggunakan aspat untuk ritual yang berhubungan dengan Jin.

Sejauh ini, penyidik Polda Metro Jaya telah memeriksa sembilan saksi termasuk dua wanita yang melaporkan Gatot.

Sebelumnya, seorang wanita berinisial CT melaporkan Gatot terkait dugaan pemerkosaan ke Polda Metro Jaya pada Kamis (8/9) malam.

CT mengadukan Gatot seperti tertuang dalam laporan Polisi No. LP/4360/IX/2016/PMJ/Ditreskrimum, terkait dugaan pelanggaran Pasal 285 KUHP juncto Pasal 286 KUHP.

Pengacara CT, Sudharmono Saputra mengungkapkan kejadian yang menimpa kliennya itu terjadi saat masih berusia 16 tahun, sekitar 2007.

Selain CT, Sudharmono juga menambahkan bahwa ada empat wanita lainnya yang menjadi korban tindak cabul Gatot akan melaporkan ke Polda Metro Jaya.

Namun kuasa hukum Gatot, Muara Karta membantah kliennya memerkosa CT, karena mengklaim wanita itu tercatat sebagai mantan istri sirinya dan telah memiliki seorang anak berusia empat tahun.

Lain Gatot lain Taat Pribadi
Jika Gatot Brajamusti menunjukkan eksistensi diri sebagai 'guru spiritual' padepokan dengan mencari pengaruh di dunia hiburan, maka nama Taat Pribadi alias Kanjeng Dimas Taat Pribadi, meraih pengaruhnya dengan menjadi "orang sakti yang bisa menggandakan uang".

Video propaganda penggandaan yang disebarnya selalu disertai tumpukan uang dan ceceran yang sedang dihitung setelah dikeluarkan dari belakang tubuh Taat. Ditambahi balutan "mantra" khusus yang menggunakan bacaan-bacaan agama Islam.

Apalagi uang yang berhasil "diproduksi" secara ghoib oleh Taat ternyata 100% asli alias diterima oleh pihak bank.

Taat juga dikenal dermawan, serta mengklaim diri sebagai Raja Nusantara di era modern ini.

Selama bertahun-tahun pengikut Taat datang berbondong-bondong dan menyetorkan uang untuk digandakan (jadi lebih banyak).

Walaupun akhirnya ada yang membelot, kecewa uang yang disetor supaya beranak pinak tanpa usaha hasilnya tak sesuai harapan. Mereka menaruh kecurigaan darimana asal uang banyak selama ini.

Kasus pembunuhan membelit Taat
Sesosok jenazah yang kemudian diidentifikasi bernama Ismail ditemukan di Situbondo, dengan tanda-tanda penganiayaan. Ia diindentifikasi sebagai mantan santri padepokan milik Taat Pribadi.

Setelah diselidiki oleh Kepolisian Resor Probolinggo, dibantu Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jawa Timur, diketahui keterlibatan para santri padepokan tersebut.

"Waktu itu berhasil ditemukan alat bukti dan penindakan terhadap mereka yang terlibat. Itu tahun 2015, sudah setahun dan berhasil ditangkap enam orang yang merupakan anak didik Taat Pribadi", kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, Selasa (27/9).

Kemudian pada April 2016, kembali ditemukan jenazah mantan pengikut yang bernama Abdul Gani di Wonogiri, Jawa Tengah. Lalu dugaan pembunuhan kembali menyasar kepada rekan-rekan santrinya di padepokan Taat.

Empat orang ditangkap dan saat ini penyidikan sudah dinyatakan rampung.

"Mereka sudah tersangka dan bahkan sudah dilakukan penyerahan ke jaksa penuntut umum", kata Boy.

Karena dua kasus pembunuhan yang diduga melibatkan santri-santri di padepokan tersebut, muncul dugaan keterlibatan Taat Pribadi yang merupakan pemimpin spiritualnya.

Setelah dilakukan penyelidikan, Taat akhirnya ditetapkan sebagai tersangka sebagai otak pembunuhan. Dengan motif untuk melenyapkan orang yang ingin membongkar rahasia padepokan.

Sang pengganda uang ini akhirnya dibekuk polisi pada Kamis (22/9) lalu, melibatkan hampir 600 personil gabungan Polres Probolingga dan Polda Jatim, untuk mengantisipasi hal tidak diinginkan.

Selain kasus pembunuhan yang membelit, masalah baru kemudian muncul, yaitu apakah ada ajaran sesat yang dipraktikkan padepokan itu.

MUI setempat sedang menyelidiki dugaan itu serta mengumpulkan bukti selengkap-lengkapnya.

Kemudian pertanyaan lain juga muncul, darimana Taat memperoleh banyak uang selama ini? Apakah hanya dikumpulkan dari pengikutnya?

Dugaan praktik pencucian uang dan MLM
Kasus Taat pribadi bisa berkembang pada penyelidikan tindak pidana lain. Yaitu, dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Penegasan ini disampaikan Kapolres Probolinggo, AKBP Arman Asmara Syarifuddin saat menyisir Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Senin kemarin (26/9).

Sebabnya, penangkapan Dimas Kanjeng oleh tim gabungan Polda Jatim dan Polres Probolinggo, juga menyita barang bukti berupa uang dalam jumlah besar. Yaitu, 10 kantong berisi uang yang jumlahnya diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Uang tersebut, menurut Kapolres, diamankan dari rumah tersangka. Tepatnya di bangunan yang dijadikan sebagai tempat tinggal Taat. Bahkan, bangunan dua lantai itu menjadi tempat penyimpanan uangnya.

”Uangnya  ada di ruang belakang lantai bawah dan lantai dua”, ujarnya kepada Radar Bromo.

Saat ini, uang itu dijadikan alat bukti pendukung kasus pembunuhan terhadap dua mantan pengikut padepokan yang tewas dibunuh.

“Ada sejumlah barang bukti yang kami amankan. Di antaranya, uang yang disimpang di 10 kantong ukuran besar. Jumlahnya diperkirakan miliaran rupiah. Tetapi,  saya belum kita hitung jumlahnya. Semuanya di tangan penyidik. Kemudian, ada keris, pedang dan  beberapa barang bukti lainnya“, katanya.

Saat ini kasus pembunuhan terus dikembangkan. Termasuk menggunakan barang bukti uang miliaran rupiah dalam kepentingan penyidikan lebih lanjut. Sebab bukan tidak mungkin, Padepokan merupakan tempat money laundry atau pencucian uang.

“Asumsi bisa saja ke arah sana  (tindak pidana pencucian uang). Namun, sekarang kami fokus pada kasus pembunuhan terhadap dua mantan pengurus padepokan. Apakah nanti terus berkembang pada tindak pidana lain, seperti yang dimaksud, tidak menutup kemungkinan”, terangnya.

Namun, perlu sejumlah langkah untuk membuktikan asumsi adanya tindak pidana pencucian uang dalam kasus Taat. Diantaranya, penyelidikan lebih jauh yang melibatkan PPATK (pusat pelaporan dan analisis transaksi keuangan).

Sementara itu, Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Marwah Daud Ibrahim saat dikonfirmasi menegaskan bahwa isu adanya penggandaaan uang atau penipuan tidak benar adanya.

Menurut Marwah, saat ini pihaknya sudah menyurati Kemenko Polhukam dan Kapolri. Melalui surat itu, pihaknya meminta perlindungan untuk penyelesaian hukum tersebut.

”Kalau ada yang merasa dirugikan atau ditipu, segera dihubungi. Karena saya pastikan tidak ada penggandaan uang atau penipuan itu”, klaim Marwah.

Selain dugaan pencucian uang, dugaan lain asal-usul uang Taat adalah dengan membuka sistem MLM.

Korban harus setor uang Rp 25 juta, diimbal balik dengan mendapatkan satu kotak yang isinya baju kebesaran, cincin yang konon bisa berubah menjadi emas.

Lalu janji ada uang dengan jumlah bisa lebih banyak lagi asal si korban ikhlas, kata polisi. (Antaranews/CNN Indonesia/Radar Bromo/Okezone)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.