Penyebab kencing nanah (foto),
Tujuh pasien gonore atau kencing nanah di Hawaii, Amerika Serikat menunjukkan peningkatan resistensi kuman terhadap perawatan medis yang diberikan.

Kabar mengkhawartirkan ini disampaikan oleh Centers for Disease Control and Prevention atau CDC, Rabu (21/9).

Dikutip dari CNN Indonesia, tujuh pasien ini menjadi kasus penyakit menular seksual pertama yang kebal obat di negeri Paman Sam. Para pasien diketahui terdiagnosis penyakitnya pada April dan Mei lalu.

Tujuh pasien yang terdiri dari enam laki-laki dan satu perempuan itu diberikan obat antibiotik ceftriaxone dan azithromycin. Senjata yang sejauh ini masih jadi andalan CDC dalam kasus kencing nanah.

Namun, uji laboratorium di Dinas Kesehatan Hawaii menunjukkan bakteri penyebab gonore di tubuh pasien tersebut belum menunjukkan tanda-tanda melemah.

Dalam konferensi pencegahan penyakit menular seksual di Atalanta, beberapa waktu lalu, kasus ini telah menjadi sebuah peringatan dini pada manusia.

Menurut CDC, bisa jadi dua antibiotik itu tak dapat lagi digunakan untuk mengatasi gonore di masa mendatang.

CDC juga menyebut bahwa bakteri Neisseria Gonorrhoeae, yang menyebabkan kencing nanah, mulai meningkatkan resistensi atau kekebalan terhadap semua jenis kelas obat antibiotik, sejak bertahun-tahun penyakit ini diobati.

Badan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular AS tersebut memperkirakan, bahwa setidaknya ada 800 ribu infeksi gonore terbaru di negara itu. Meski banyak diantaranya yang tidak diketahui atau mendapat pengobatan.

"Gonore adalah salah satu infeksi seksual paling umum yang ditularkan, namun kebanyakan orang tidak menyadari mereka terinfeksi. Satu-satunya cara adalah melalui pengujian laboratorium", kata Gail Bolan, Direktur Divisi Pencegahan Penyakit Menular CDC.

Gonore memiliki gejala rasa seperti terbakar saat buang air kecil dan mengeluarkan cairan mirip nanah dari bagian penis atau vagina.

Bila tak diobati, dapat menyebabkan masalah serius dalam jangka panjang, seperti radang panggul dan kemandulan.

Pasien gonore jika tidak ditangani dengan obat rekomendasi, maka hanya akan membuat gejalanya menghilang dan pasien merasa sudah sembuh. Padahal, bakteri ini masih ada di dalam tubuh mereka.

"Kami melihat penurunan kerentanan muncul dari Barat (AS), mulai dari Hawaii, dan kami juga melihat proporsi lebih besar menurunnya kerentanan pada kaum homoseks (pendubur). Ini pola yang kami lihat sebagai peningkatan kekebalan kuman akan penisilin dan antibiotik lainnya", kata Bolan.

Ahli lain CDC mengungkapkan kekhawatiran serupa, dimana penyakit kelamin di masa depan jadi lebih berbahaya dan manusia kehilangan senjata.

"Baris terakhir (obat yang ada) pertahanan kami terhadap gonore melemah", ungkap Jonathan Mermin, seorang dokter di pusat CDC yang berfokus pada infeksi menular seksual.

Menurut Mermin, jika resistensi terus meningkat dan menyebar, maka pengobatan saat ini pada akhirnya akan gagal. Ini akan menyebabkan 800.000 orang Amerika yang menderita gonorea berisiko tidak dapat diobati.

Peningkatan kekebalan bakteri terhadap antibiotik bukan hanya terjadi untuk kasus gonore saja. Berbagai kuman mulai menunjukkan kekebalannya pada antibiotik yang selama ini beredar.

Disinyalir, salah satu penyebabnya adalah terlalu sering penggunaan antibiotik pada manusia dan hewan, baik di bidang kesehatan, pertanian maupun peternakan.

Saat ini, CDC berupaya mempertahankan efektivitas dua obat rekomendasi sembari mulai menguji obat baru yang diharapkan dapat menghadapi kuman gonore dan lainnya. (CNN Indonesia/National Geographic Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.