Bangunan-bangunan hancur di wilayah oposisi (foto),
Pasukan rezim Assad dan sekutunya dari berbagai milisi Syi'ah asing, melakukan serangan darat besar ke bagian timur kota Alepo yang dikontrol oposisi Sunni, hari Selasa (27/9).

Ini menjadi serangan darat terbesar ke kota itu, setelah sebelumnya berhasil dikepung sejak 3 minggu lalu dan dihajar serangan udara brutal mulai pekan lalu.

Pasukan rezim dan gabungan milisi Syi'ah dari Iran, Irak dan Lebanon, mencoba meraih kemajuan dari arah Aleppo Citadel atau benteng bersejarah kota, juga dari utara dan selatan yang sebelumnya sempat digunakan sebagai jalur akses.

Kelompok pemantau SOHR menyebut tentara rezim telah meraih beberapa kemajuan, namun laporan itu dibantah oposisi yang menyatakan berhasil menahan gempuran.

Lebih dari 250.000 warga sipil diyakini terjebak di dalam pengepungan, ditambah lagi mereka harus merasakan serangan udara paling ganas yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pesawat Rusia dilaporkan menggunakan jenis bom anti bunker yang banyak menghancurkan tempat perlindungan warga, sehingga mengubur para korban hidup-hidup. Lebih dari 300 warga sipil meninggal dalam sepekan ini.

Sedangkan korban luka dengan jumlah massal hanya ditangani oleh sekitar 30 dokter tersisa, dimana rumah sakit hampir putus asa karena tak mampu menangani pasien.

Organisasi Kesehatan Dunia menyerukan "pembentukan segera rute kemanusiaan untuk mengevakuasi warga yang sakit dan terluka" dari bagian timur kota.

Amerika Serikat mengatakan serangan ke Aleppo ini adalah bukti bahwa Assad dan Rusia telah membuang proses perdamaian yang didukung internasional demi mengejar kemenangan di lapangan.

Merebut seluruh kota Aleppo dari kontrol oposisi tersisa, dipandang sebagai pencapaian terbesar oleh militer Assad dan diyakini akan menjadi pukulan telak bagi para penentangnya.

Pertempuran sengit
Komandan militer oposisi mengatakan bahwa pasukan pro-Assad berkumpul di beberapa titik sekitar Aleppo timur sebelum meluncurkan serangan.

Sedangkan menurut komandan milisi Syi'ah Irak pendukung Assad, kekuatan besar diorganisir oleh pasukan khusus Tiger milik Damaskus, mereka bergerak dengan kendaraan lapis baja dan tank untuk menyerang wilayah oposisi.

Melancarkan operasi darat besar dengan dukungan milisi Syi'ah asing dan serangan udara Rusia menjadi strategi tempur baru merebut kota.

Perang kota jarang dilakukan oleh rezim, di lokasi lain seperti pinggiran Damaskus dan Homs, Assad telah menggunakan pengepungan dan pengeboman dalam waktu bertahun-tahun untuk memaksa pejuang oposisi menyerah dan mau keluar.

Televisi rezim Assad melaporkan bahwa tentaranya telah merebut kembali distrik al-Farafra di Kota Tua Aleppo, serta berhasil membersihkan ranjau.

Berbanding dengan seorang sumber oposisi yang mengatakan bahwa pihak rezim memang telah merebut beberapa posisi di dekat daerah itu, namun kemudian dipaksa mundur.

Oposisi juga menyatakan berhasil membendung serangan pasukan pro-Assad di 4 sektor pertempuran lainnya.

Zakaria Malahifji, anggota politbiro kelompok pejuang Sunni Fastaqim, mengatakan jika rezim telah memobilisasi pasukan infanteri dan kendaraan berat.

"Sampai hari ini, Alhamdulillah, upaya (rezim) untuk meraih kemajuan telah dibendung", tambahnya.

Klaim-klaim yang ada belum bisa dikonfirmasi secara independen.

Tak ada perdamaian
Sekutu Assad, Hezbollah, secara terbuka mengatakan menolak proses perdamaian dan lebih memilih untuk meraih kemenangan militer.

"Tidak ada kemajuan pada solusi politik... kata terakhir adalah dengan perang", ujar pemimpin kelompok teroris Hezbollah, Hassan Nasrallah, Selasa.

Hal serupa diungkapkan Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani, yang menyebut nasib Aleppo akan ditentukan hanya melalui "pertempuran besar". (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.