Obama (foto),
Presiden Amerika Serikat Barack Obama mendesak agar Israel segera mengakhiri okupasinya di Palestina, dan hal sebaliknya, agar Palestina mengakui legitimasi Israel.

Berpidato pada pertemuan tahunan Majelis Umum PBB di New York pada Selasa (20/9), Obama mengungkapkan pandangannya.

Menurutnya, baik Israel maupun Palestina akan mendapatkan keuntungan jika Tel Aviv menyadari bahwa mereka tidak akan dapat secara permanen menduduki wilayah Palestina.

Dalam kehadiran terakhirnya di forum ini karena akhir masa jabatan, Obama juga menyebutkan Palestina harus mampu menolak segala hasutan dan mencoba menerima legitimasi Israel.

"Tentunya Israel dan Palestina akan lebih baik jika Palestina menolak hasutan dan mengakui legitimasi Israel, (dan jika) Israel mengakui bahwa mereka tidak dapat dengan permanen menduduki dan mendiami tanah Palestina", ujar Obama, dikutip CNN Indonesia dari Reuters.

Upaya Obama untuk melanjutkan perjanjian perdamaian antara Israel-Palestina gagal selama hampir delapan tahun masa jabatannya di Gedung Putih, dan telah terhenti sejak 2014.

Namun para pejabat AS menduga Obama akan memaparkan draf kasar yang menjadi parameter dalam kesepatakan tersebut, sebelum dirinya lengser pada Januari mendatang. Sementara para pengamat memprediksi hal itu tidak akan terjadi.

Dalam kesempatan itu, Obama juga menyinggung campur tangan Rusia pada berbagai konflik di negara tetangganya, termasuk soal pencaplokan Krimea dari Ukraina pada 2014 setelah penggulingan mantan presiden Ukraina yang pro-Moskow, Viktor Yanukovich.

Ia memperingatkan Moskow, dimana jika "terus mencampuri urusan negara tetangga, hal itu mungkin dapat menumbuhkan rasa nasionalisme di dalam negeri, namun juga akan membuat perbatasannya kurang aman dan memperburuk citranya sebagai sebuah negara".

Obama menilai Rusia tengah berusaha untuk memulihkan "masa kejayaan yang telah hilang" melalui kekuatan militer.

Selain itu, ia juga menyinggung sengketa internasional di Laut China Selatan.

"Sebuah resolusi damai sengketa melalui jalur hukum akan lebih mampu menciptakan stabilitas ketimbang militerisasi di pulau dan karang", ujar Obama.

China mengklaim hampir 90 persen kawasan Laut China Selatan, salah satu jalur perdagangan tersibuk dunia dengan nilai mencapai USD 5 triliun per tahun.

Klaim China di kawasan yang diyakini kaya minyak itu overlap dengan klaim Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam.

Pada Juli lalu, pengadilan arbitrase internasional yang berbasis di Den Haag, Belanda, memutuskan bahwa klaim China tersebut tidak berdasar. Namun Beijing tidak mengindahkan keputusan itu. (CNN Indonesia/Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.