Seorang korban meninggal terkubur reruntuhan (foto),
Sumber lokal Suriah mengungkapkan ratusan warga sipil tewas akibat serangan udara militer Assad dan Rusia selama 6 hari terakhir, di wilayah Aleppo timur yang dikontrol kelompok Sunni.

Menurut angka yang dikeluarkan oleh relawan Pertahanan Sipil, sebuah grup penyelamat di kota-kota oposisi termasuk Aleppo, bahwa sebanyak 323 warga sipil tewas dan 1.334 lainnya luka-luka akibat pemboman membabi buta pesawat tempur Assad dan Rusia sejak 19 September lalu.

Wilayah-wilayah yang disasar antara lain: Bestan al-Qasr, al-Kallaseh, al-Ferdos, al-Ansari, al-Qaterji, Bab al-Nairab, al-Shalihin, al-Ma'adi, Tareeq al-Bab, al-Sakhour, al-Marjeh, Karm Homad, al-Syeikh Khodr, al-Sukkari, al-Meyassar, dan daerahn Masaken Hanano, serta distrik Bishqatin dan Kafr Hamra.

Serangan udara telah diberlakukan ke Aleppo pasca dicabutnya gencatan senjata, Senin awal pekan lalu, dan semakin intensif setelah pengumuman operasi militer pihak rezim Damaskus hari Kamis.

Aleppo timur sendiri telah menderita pengepungan sejak tentara Assad dan milisi Syi'ah asing memutus jalur suplai di kawasan Ramusah dan akademi militer.

Artinya sudah lebih dari 20 hari kota itu terisolir total dari dunia luar, menyebabkan kelangkaan makanan, air bersih dan obat-obatan, sehingga mengancam kehidupan 250-300 ribu warga sipil di sana.

Kelompok bantuan medis 'Dokter Lintas Batas' (MSF) mengutuk penargetan infrastruktur lewat pengeboman membabi buta ke wilayah sipil di Aleppo timur.

MSF mengungkapkan "keprihatinan yang mendalam" atas serangan udara tanpa pandang bulu yang ditambah kondisi memprihatinkan akibat pengepungan (oleh rezim Assad) itu.

Hanya dalam dua hari pertama serangan udara (Kamis dan Jum'at), rumah sakit MSF langsung menerima 145 korban luka dan mencatat 23 kematian warga.

"Orang-orang di Aleppo sudah tercekik di bawah pengepungan, belum lagi ditambah dengan datangnya serangan (udara) mengerikan", kata Carlos Francisco, direktur MSF di Suriah, melalui situs resmi kelompok itu.

"Tidak ada bantuan, termasuk suplai obat-obatan yang begitu mendesak pun tidak diperkenankan untuk masuk. Kami sangat khawatir dengan tingginya jumlah korban luka yang dilaporkan oleh rumah sakit dukungan kami, dan juga info bahwa di banyak lokasi para korban tak punya tempat yang bisa didatangi. Mereka hanya dibiarkan menunggu kematian", keluhnya.

Bantuan kemanusiaan PBB yang direncanakan disalurkan pada masa gencatan senjata Idul Adha lalu gagal karena dihalangi pihak Damaskus. (Orient-news/MSF)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.