Erdogan dan Putin dalam pertemuan G-20 di Turki 2015 (foto),
Dalam kunjungan bilateralnya ke Rusia pekan ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berharap dapat membuka "lembaran baru" dan mempererat kerja sama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Ini menandai membaiknya hubungan kedua negara, usai Turki menembak jatuh jet tempur Su-24 Rusia yang melanggar perbatasan pada November lalu.

Menurut kantor berita Rusia, TASS, pada Minggu (7/8), pertemuan bilateral kedua kepala negara akan dilakukan di kota St. Petersburg pada Selasa (9/8).

Dengan bertujuan untuk mengakhiri ketegangan kedua negara yang berujung sanksi perdagangan Rusia kepada Turki.

Jumlah wisatawan Rusia yang berkunjung ke Turki sepanjang semester pertama 2016 pun menurun sebesar 87 persen.

"Ini akan menjadi kunjungan bersejarah, awal yang baru. Dalam pembicaraan dengan teman saya Vladimir (Putin), saya percaya, lembaran baru hubungan bilateral akan dibuka. Negara kami memiliki banyak hal yang harus dilakukan bersama", kata Erdogan, dikutip CNN Indonesia dari Reuters.

Erdogan dan Putin juga akan memfokuskan pembicaraan pada konflik di Suriah, kerja sama perdagangan, energi dan dimulainya kembali penerbangan pesawat sewa dari Rusia ke Turki.

"Tanpa partisipasi Rusia, tidak mungkin menemukan solusi atas masalah di Suriah. Hanya dalam kemitraan dengan Rusia kita dapat menyelesaikan krisis di Suriah", ujar Erdogan.

Rusia dan Turki berada di sisi yang berseberangan dalam perang Suriah. Moskow mendukung rezim berkuasa pimpinan Basyar al-Assad, sementara Ankara ingin Assad segera digulingkan.

Pertemuan Erdogan dengan Putin juga dinilai sebagai pertanda merenggangnya hubungan Ankara dengan Barat, utamanya setelah percobaan kudeta pada pertengahan Juli lalu yang berhasil digagalkan.

Turki menuding kudeta yang menewaskan lebih dari 230 orang itu didalangi oleh Fathullah Gulen, tokoh agama Turki yang hidup dalam pengasingan di Pennsylvania, AS.

Turki telah meminta AS secara resmi untuk mengekstradisi Gulen, namun AS meminta Turki memberikan bukti keterlibatan Gulen dalam peristiwa itu. Opini publik Turki memandang sikap AS sebagai bentuk berkelit.

Gulen sendiri membantah tuduhan tersebut dan meminta AS tidak mengekstradisinya. Ia menilai permintaan ekstradisi itu hanyalah cara Erdogan membawanya pulang ke Turki untuk menghukumnya.

Sementara, Barat dengan sejumlah lembaga pemerhati HAM, mengecam tindakan pemerintah Turki terhadap terduga pendukung kudeta yang dianggap keras dan melanggar HAM, termasuk rencana pemberlakuan lagi hukuman mati.

Menurut Reuters, lebih dari 60 ribu orang dari jajaran militer, pengadilan, layanan sipil dan akademisi telah ditangkap, diberhentikan atau diskors karena diduga terkait dengan kudeta.

Turki menuduh Barat lebih peduli nasib Gulen dan para pelaku kudeta daripada rakyat Turki sendiri.

Namun para pejabat Turki menyatakan bahwa kunjungan Erdogan ke Rusia bukan berarti Turki menjauh dari Barat.

Hingga saat ini, Turki merupakan sekutu Barat dalam NATO dan calon anggota Uni Eropa. Turki juga memiliki kesepakatan dengan Uni Eropa untuk menampung ribuan imigran Suriah yang membanjiri Eropa sejak tahun lalu. (CNN Indonesia/Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.