Demonstrasi Syi'ah Bahrain (foto),
Bahrain dilaporkan terus menargetkan komunitas Syi'ah melalui berbagai penangkapan atau penuntutan hukum pada tokoh ulama, aktivis dan penghibur dari sekte tersebut. Hal ini diungkap oleh tim ahli independen yang ditunjuk PBB.

Lewat sebuah pernyataan, para pakar PBB mendesak pemerintah Bahrain menghentikan apa yang disebut sebagai "penangkapan sewenang-wenang atas dasar keyakinan" dan segera melepaskan mereka yang ditahan sebagai wujud jaminan kebebasan berbicara dan berkumpul.

"Gelombang intensif penangkapan, penahanan, surat panggilan, interogasi dan tuntutan pidana yang dilakukan pada sejumlah ulama dan penyanyi agama Syi'ah, aktivis HAM serta pemrotes damai akan memiliki efek buruk terhadap hak asasi manusia", kata pakar PBB seperti dikutip Reuters.

Mereka menyebutkan bentuk-bentuk langkah keras pemerintah terhadap sekte itu, seperti pembubaran oposisi Syi'ah utama al-Wefaq, penutupan organisasi keagamaan dan larangan ceramah bagi beberapa tokoh Syi'ah.

"Berbagai macam tuduhan yang dilakukan terhadap Syi'ah diantaranya 'pertemuan ilegal', 'penghasutan kebencian terhadap rezim', 'pencucian uang' dan 'aksi terorisme' yang dikaitkan pada pertemuan damai, perkumpulan religius atau ekspresi damai keyakinan mereka, juga perbedaan pandangan dan pendapat", lanjut keterangan tim itu.

Para pakar PBB itu menyebutnya sebagai "tuduhan tanpa dasar yang dipakai untuk menutupi penargetan sengaja pada Syiah ".

Bentrokan kontinyu terus terjadi antara pemeluk Syi'ah dan pasukan keamanan Bahrain sejak penguasa Muslim Sunni menggagalkan aksi "pemberontakan pro-demokrasi" yang digalang Syi'ah pada tahun 2011.

Bahrain dengan dibantu militer dari Arab Saudi berhasil mempertahankan negeri itu dari rencana "cengkraman Iran", merujuk pada tuduhan Kerajaan Sunni terhadap peran Teheran atas hegemoni gerakan politik sektarian kaum Syi'ah.

Tuduhan yang terus dibantah oleh Republik Syi'ah Iran. Meski rezim Teheran menyampaikan dukungannya pada Syi'ah Bahrain dan mengecam Kerajaan.

Selama beberapa bulan terakhir, pihak berwenang Bahrain bertindak keras pada kekuatan politik Syi'ah maupun tokoh yang berpengaruh, dengan alasan untuk menjaga persatuan negeri dari sektarianisme dan kebencian.

Sikap itu telah mengundang berbagai teguran internasional karena dianggap "melanggar kebebasan dan HAM" warganya.

Negara-negara Teluk, yang merupakan kekuatan Sunni, memandang negara teokrasi Syi'ah Iran sebagai ancaman regional karena memprovokasi kaum Syi'ah di negaranya menentang pemerintah sah dan loyal pada Teheran. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.