Kegembiraan warga sipil saat pengepungan ditembus (foto),
Sejak tanggal 31 Juli sampai hari ini 11 Agustus, kota Aleppo terus menjadi saksi bentrokan berkelanjutan,  setelah serangan kelompok oposisi dan sekutunya menerobos pengepungan Aleppo timur.

Serangan kelompok oposisi FSA, faksi-faksi Islamis, Jabhah Fathu Syam, Hizbul Islam Turkistan dan kelompok pejuang lainnya telah membawa kerugian moral dan fisik dari tentara rezim Assad, militan Syi'ah Hezbollah, Iran dan Rusia, dengan ditembusnya barikade pengepungan pada hari Sabtu (6/8).

Kemenangan itu secara tidak langsung membalik kondisi kota Aleppo barat yang dikuasai Assad. Karena jalur suplai yang terbuka ke Aleppo timur otomatis menutup jalur suplai ke Aleppo barat.

Jatuhnya basis militer utama dan terkuat di Ramusah (pangkalan altileri, akademi altileri, akademi tekni penerbangan) dan distrik Ramusah ke tangan oposisi, telah membuka jalur baru ke kota Aleppo timur selebar hingga 2 km.

Di sisi rezim, putusnya jalur Ramusah membuat mereka harus mengubah jalur suplainya dari arah utara melalui jalan Castello-Mallah-Syeikh Najjar dan kemudian masuk ke Aleppo barat.

Sebelumnya pada bulan Juli, keberhasilan rezim mengepung Aleppo timur menjadi pukulan telak bagi oposisi.

Namun dalam kondisi terdesak itu, justru membuat oposisi Sunni memobilisasi ribuan pejuangnya menuju barat daya kota untuk menembus pengepungan lewat jalur baru.

Koalisi Jaisyul Fath dari arah Idlib dan Fathu Halab dari dalam kota terkepung, akhirnya saling bertemu pada tanggal 6 Agustus. Kelompok oposisi membalik posisi, membuat sekitar 300 ribu warga sipil Aleppo timur bergembira.

Seperti diungkap oleh SOHR, ketika oposisi dalam posisi terdesak, media rezim Assad dan media lain yang mendukungnya (media Syi'ah, red) memunculkan kebohongan tentang pengepungan Aleppo.

Propaganda ini adalah daur ulang seperti yang pernah terjadi di kota Baniyas pada tahun 2011.

Rezim memutar balik cerita di lapangan, ketika operasi mengepung Aleppo timur (sejak Juli) dan memutus jalan Castello, dengan menyebutnya sebagai usaha untuk menggagalkan "pendudukan pasukan asing atas Aleppo timur".

"..Kebohongan yang dipromosikan adalah, bahwa serangan itu dilakukan untuk mematahkan pengepungan dan untuk mengusir keluar agen Turki dan Saudi dari kawasan timur Aleppo", kata SOHR.

Rezim juga menyatakan "berhasil mengepung kekuatan asing itu", menjebak mereka di Aleppo timur.

Menurut SOHR, propaganda bohong ini adalah daur ulang hal serupa di kota Baniyas, provinsi Tartous, pada masa awal revolusi Suriah tahun 2011 lalu.

Saat itu media Assad menuduh revolusi dibantu oleh "agen-agen Israel" yang mempengaruhi orang-orang untuk menentang Assad.

"..Media yang sama (pro Assad) mengklaim, dalam bulan pertama dimulainya revolusi Suriah pada tahun 2011, bahwa agen Israel di kota Baniyas membantu massa. Media itu telah mempromosikan kebohongan, serta menyebut bahwa agen asing membantu penduduk setempat dalam revolusi melawan rezim Basyar al-Assad", tulis kelompok pemantau perang Suriah, SOHR, dalam situsnya.

Hal serupa terjadi lagi di Aleppo timur yang dikepung, dimana media pro Assad memutar ceritanya telah diduduki agen Turki dan Saudi.

"Ini adalah bohong yang sangat jelas dan tidak benar, tidak ada kehadiran agen asing di kota seperti (kabar) yang disebarkan oleh rezim", lanjut SOHR.

Risalah telah memeriksa bahwa pejuang asli di Aleppo timur adalah koalisi Fathu Halab (FSA) yang murni Suriah.

Satu-satunya kelompok "murni asing" yang terlibat dalam serangan untuk menembus pengepungan Aleppo adalah Hizbul Islam Turkistan, pendatang dari kawasan Asia tengah.

Namun kelompok ini relatif kecil dan tidak punya agenda politik. Mereka adalah sekutu oposisi suriah di garis depan.

Sebaliknya, ketika Aleppo timur terkepung, ribuan milisi Syi'ah asing dan tentara Iran berperan sangat besar dalam membantu tentara Assad. (SOHR/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.