Ilustrasi kebebasan Amerika (foto),
Seorang siswa Muslim di New York, Nashawan Uppal, dipaksa oleh sekolahnya untuk mengaku sebagai teroris ISIS yang ingin meledakkan gedung tempatnya belajar.

Diberitakan Reuters, keluarga Uppal pun melayangkan tuntutan sebesar US$25 juta atau setara Rp327,8 miliar kepada sekolah tersebut.

Dalam tuntutan yang diserahkan ke pengadilan federal Brooklyn tersebut, keluarga dari siswa Pakistan-Amerika itu kemudian menuturkan kisah dari putranya yang terjadi pada 6 Januari lalu.

Saat itu, Upall sedang duduk di ruang makan siang di Sekolah Menengah Islip Timur ketika teman-temannya mulai bertanya apa yang selanjutnya akan ia ledakkan.

Upall yang memiliki kesulitan belajar dan disabilitas sosial akhirnya memutuskan untuk pindah tempat duduk karena orang dewasa di ruangan itu tidak membantunya.

Namun, teman-temannya justru mengikuti Upall dari belakang dan terus melontarkan ejekan berbau Islamofobia.

Tak sampai di situ, keesokan harinya Upall diusir dari kelas gimnastik dan diinterogasi oleh Pengawas Sekolah, John Dolan; Kepala Sekolah, Mark Bernard; dan Wakil Kepala Sekolah, Jason Stanton.

"Stanton berulang kali menanyakan apakah Nashwan adalah seorang teroris dan membuat bom di rumahnya", demikian bunyi surat tuntutan tersebut seperti dikutip New York Post.

Ketika Upall membantah, Stanton semakin marah dan berkata, "Jangan berbohong kepada kami!"

Dengan gemetar, Upall dipaksa menulis pengakuan yang mengatakan bahwa ia "merupakan bagian dari ISIS, tahu cara membuat bom, memiliki bom di rumah, dan ia akan meledakkan pagar sekolah."

Para petugas sekolah kemudian menelepon ibu Upall, Nubaisha Amar, dan mengatakan bahwa putranya mengaku setia kepada ISIS dan ingin meledakkan sekolah.

Polisi lantas membawa Upall dan Amar kembali ke rumahnya. Di sana, polisi menggeledah seisi rumah dan tak menemukan ancaman apa pun. Namun, Upall diskors selama sepekan karena "aktivitas kriminal".

Pengacara keluarga Upall, David Antwork, mengatakan bahwa bocah berusia 12 tahun itu trauma.

"HAM sang tertuduh terinjak-injak. Ia dipermalukan dengan dipaksa mengakui kejahatan yang tidak ia lakukan, sementara mereka mengabaikan fakta bahwa ia sebenarnya dianiaya dan memang sudah diketahui memiliki disabilitas sosial, bahasa, dan belajar", kata Antwork. (CNN Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.