Erdogan (foto),
Presiden Turki Tayyip Erdogan menuduh Barat mendukung terorisme dan percobaan kudeta pada pertengahan Juli lalu.

Erdogan juga mempertanyakan tentang hubungan Turki dengan Amerika Serikat, dan menilai bahwa rencana kudeta direncanakan di luar negeri.

Dalam pidatonya di istana kepresidenan di Ankara, ia menyebut berbagai sekolah swasta di AS menjadi sumber pendapatan utama bagi jaringan tokoh agama Fathullah Gulen, yang dituding mendalangi percobaan kudeta yang menewaskan 246 orang dan melukai 2.000 lainnya itu.

"Saya menyeru kepada Amerika Serikat: Mitra strategis seperti apa kami ini, dimana anda masih saja menjadi tuan rumah untuk seseorang yang sudah saya minta diekstradisi?", ujar Erdogan di hadapan perwakilan lokal dari perusaan multinasional yang beroperasi di Turki, Selasa (2/8), dikutip Reuters.

"Upaya kudeta ini pelakunya berada di Turki, tapi rencananya disusun di luar (negeri). Sayangnya, Barat mendukung terorisme dan komplotan kudeta", kritiknya, disambut dengan tepuk tangan riuh para hadirin dan disiarkan langsung di televisi.

Gulen, yang tinggal dalam pengasingan di Pennsylvania sejak 1999, menyangkal keterlibatannya dalam percobaan kudeta.

Presiden AS Barack Obama menegaskan bahwa Washington hanya akan mengekstradisi Gulen jika Turki memberikan bukti kesalahan Gulen dalam kudeta tersebut.

Upaya "pembersihan" pendukung Gulen dari berbagai institusi negara Turki telah menyasar lebih dari 60 ribu anggota militer, pejabat pengadilan, pegawai negeri sipil, pengajar dan akademisi ditahan, diskors maupun diselidiki, pasca kudeta yang terjadi pada 15 Juli lalu.

"Jika kita memiliki belas kasihan terhadap orang-orang yang mencoba melancarkan kudeta ini, kita lah yang akan dikasihani", kata Erdogan.

Gulen, 75 tahun, merupakan mantan kawan yang telah menjadi lawan Erdogan. Dikenal sebagai orang yang merumuskan agama dengan ilmu pengetahuan alam, mendorong dialog antar agama, serta demokrasi multi partai. Ia menginisiasi dialog dengan Vatikan dan organisasi-organisasi Yahudi.

Gerakan Gulen, atau yang dikenal dengan nama Hizmet di Turki, menjalankan sekitar 2.000 lembaga pendidikan di sekitar 160 negara.

Pekan lalu, Kedutaan Besar Turki di Jakarta merilis pernyataan yang menyatakan bahwa sembilan institusi pendidikan di Indonesia terkait dengan jaringan Organisasi Teroris Fethullah Gulen (FETO).

Dalam rilis itu disebutkan bahwa kesembilan sekolah tersebut berada di bawah organisasi payung PASIAD, yang telah ditutup pada 1 November 2015.

Turki juga menyebut bahwa sejumlah sekolah yang berkaitan dengan FETO di seperti Yordania, Azerbaijan, Somalia dan Nigeria sudah ditutup. (CNN Indonesia/Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.