Rodrigo Duterte (foto),
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada hari Senin menepis kemungkinan dirinya diseret ke pengadilan internasional atas kebijakan "tembak mati" dalam perang terhadap gembong narkoba.

Bahkan ia menyatakan siap mendekam di penjara jika bisa diseret secara hukum atas keputusannya, sebagai tanggung jawab melindungi para petugas keamanan yang menjalankan perintahnya.

Tapi dalam pidatonya di Hari Pahlawan Nasional Filipina, Duterte dengan tegas menolak disandingkan dengan "para idiot" seperti ISIS dan diktator Suriah Basyar al-Assad, yang disorot atas berbagai kekejaman, pembantaian dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

"Apakah saya membunuhi anak-anak? Apakah saya menjatuhkan bom seperti Assad dan orang-orang idiot lainnya? Apakah saya membakar wanita yang menolak berhubungan seks?", kata Duterte, dikutip Manila Times.

"Saya akan mengambil tanggung jawab hukum secara penuh. Saya akan senang bergabung dengan mereka di penjara. Saya tidak akan meminta ruang khusus. Saya hanya akan meminta tempat tidur, busa, dan sesuatu untuk dibaca. Jangan mengancam saya dengan (tuduhan) genosida", lanjutnya.

Ia berpendapat bahwa perang melawan narkoba tak akan berhenti, dalam rangka menciptakan kenyamanan bagi "warga yang takut pada Tuhan", serta menjamin keamanan anak-anak saat keluar rumah.

Lebih dari 1.800 tewas dalam kebijakan perang anti narkoba Duterte, hanya beberapa bulan setelah memerintah.

Ia juga melakukan sayembara berhadiah bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi tentang aparat/pejabat yang terlibat bisnis narkoba.

Pada tanggal 18 Agustus, pelapor khusus PBB Agnes Callamard dan Dainius Puras meminta pemerintah Filipina menghentikan gelombang pembunuhan terkait kasus narkoba.

Meski dilakukan untuk memberantas peredaran obat-obatan terlarang, "aktor negara" dianggap terikat dengan kewajiban hukum internasional. (Manila Times)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.