Milisi Syi'ah/pro Assad yang tertawan (foto),
Seperti dilansir AFP, kelompok pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) merilis angka terbarunya tentang jumlah kematian secara keseluruhan yang tercatat oleh lembaga tersebut, mulai dari meletusnya revolusi pada tahun 2011.

SOHR menyebutkan sebanyak 292.817 orang telah tewas sejak konflik meletus pada Maret 2011 sampai akhir Juli 2016. Jumlah ini meningkat hingga 10 ribu kematian dibanding angka sebelumnya yang dirilis SOHR pada 26 Mei lalu.

Dari jumlah ini, terdapat 84.472 warga sipil yang menjadi korban, termasuk 14.711 anak/remaja di bawah umur dan 9.520 orang perempuan.

SOHR mencatat kematian kombatan dari kelompok oposisi "moderat" dan milisi Kurdi (data digabung) sebanyak 50.548 orang, mereka terutama adalah warga asli Suriah.

Lalu angka kematian dari kelompok kombatan Jihadis, petempur garis keras dan ISIS (data digabung) sebanyak 49.547 orang, termasuk warga asing.

Sementara dari kubu rezim Assad, terdapat 104.656 tentara dan milisi yang tewas. Sebanyak 57.909 adalah tentara resmi rezim Assad, dan 1.306 militan Syi'ah Hezbollah Lebanon, yang bertempur di pihak rezim.

Sisanya adalah milisi lokal Syabihah dan loyalis Ba'ats, juga pasukan Iran beserta milisi Syi'ah asing dari kawasan Asia seperti Irak, Iran, Afghanistan dan Pakistan.

Sisanya, sebanyak 3.594 korban tewas tidak teridentifikasi dari bagian klasifikasi mana.

Angka SOHR ini bukanlah jumlah pasti sebenarnya, melainkan data yang dicatat oleh aktivis-aktivis jaringannya di seluruh Suriah sejak awal perang. Seperti perkiraan lain menurut utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, angka kematian sepanjang perang telah mencapai 400 ribu orang.

SOHR juga memperkirakan masih ada ribuan orang hilang atau tak jelas nasibnya yang berada pusat-pusat penahanan milik rezim Assad, maupun pihak-pihak bersenjata lainnya.

Revolusi Suriah dimulai dari kasus penculikan dan pembunuhan sekelompok anak kecil di kota Dara'a oleh pasukan keamanan karena membuat coretan anti Assad.

Prosesi pemakaman para korban berubah menjadi ungkapan protes para pelayat, dan direspon tindakan brutal pasukan pemerintah. Sehingga memicu gelombang protes lebih besar di wilayah itu.

Rezim terus melakukan tindakan represif untuk menghentikan protes, termasuk menembaki demonstrasi damai warga sipil. Dari Dara'a, gelombang kemarahan kemudian menyebar ke seluruh negeri, terutama oleh kaum Sunni (Muslim).

Pasukan keamanan yang dikontrol kaum minoritas Alawite (Syi'ah Nushairiyah), yang merupakan latar keluarga Assad, terus melakukan tindakan brutal terhadap demonstran yang menuntut jatuhnya rezim.

Membuat sekelompok militer Sunni melakukan pembelotan dengan mendirikan Jaisyul Hurr (FSA), bersama warga sipil yang mengangkat senjata untuk melawan militer Assad.

Saat ini secara umum, di Suriah ada 4 kubu utama. Yaitu rezim dan sekutunya, kelompok oposisi dan jihadis, militan Kurdi serta kelompok ultra ekstrimis ISIS. (AFP/BBC/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.