Narendra Modi (foto),
Perdana Menteri India, Narendra Modi, pada hari Selasa (9/8) menyerukan diakhirinya kekerasan di wilayah panas Kashmir, Modi juga menjanjikan pekerjaan bagi kaum muda. Ini menjadi komentar pertamanya sejak bentrokan mematikan yang dimulai sebulan lalu.

Sebagian besar daerah mayoritas Muslim di Kashmir yang dikuasai India, berada di bawah aturan jam malam, sejak protes massal 9 Juli atas kematian pemimpin pemberontak Hizbul Mujahidin di tangan pasukan New Delhi.

Lebih dari 50 warga sipil telah tewas akibat bentrokan antara demonstran dengan polisi/tentara/paramiliter India, ribuan lainnya luka-luka. Ditambah 2 orang polisi yang tewas.

"Kami ingin menciptakan lapangan kerja dan pekerjaan bagi para pemuda Kashmir. Seluruh negeri ini bersama kalian", kata Modi.

Sebelumnya Modi menghadapi kritikan karena bungkam atas terjadinya kerusuhan, yang akhir-akhir ini mulai mereda meski belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

"Perdamaian, persatuan dan keharmonisan di Kashmir adalah prioritas semua pihak", lanjut Modi dalam pidato yang disiarkan televisi nasional. Ia juga menyalahkan "beberapa orang sesat" atas terjadinya kekerasan.

"Sungguh menyakitkan bagi saya ketika para pemuda, yang harusnya memiliki laptop, bola voli, tongkat kriket... telah diberi batu di tangan mereka. Ini mungkin bermanfaat untuk agenda politik sedikit orang, tapi bagaimana dengan nasib pemuda yang tidak tahu-menahu itu?", tambah Modi.

Para pemuda Kashmir turun ke jalan-jalan, melakukan protes dan terlibat bentrokan dengan pasukan keamanan India pasca kematian tokoh penting separatisme, Burhan Wani.

Tentara, polisi dan paramiliter India menembaki para demonstran dengan berbagai jenis senjata, terutama peluru pelet dari senapan angin.

Puncak kekerasan berdarah adalah pasca pemakaman Wani, ketika puluhan pemrotes terbunuh oleh tembakan peluru tajam aparat India. Sementara 1 orang anggota keamanan dilaporkan tewas setelah kendaraannya ditenggelamkan.

Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata, asal Modi, termasuk bagian dari koalisi pemerintahan di wilayah Jammu dan Kashmir, negara bagian dengan penduduk mayoritas Islam di India.

Wilayah tradisional Kashmir terbagi dalam kontrol Pakistan dan India (termasuk yang diklaim China), tapi kedua negara mengklaim wilayah itu secara penuh.

Lembah Kashmir, dimana kekerasan terbaru terus terjadi, adalah basis dari gerakan pro pemisahan diri di wilayah Muslim untuk melawan kontrol India. Mereka ingin merdeka atau memilih integrasi dengan Pakistan.

Pemimpin pro pemisahan Kashmir (separatis) Mirwaiz Omar Faruq menganggap komentar Modi telah meremehkan perasaan kuat yang diinginkan wilayah tersebut.

"Ini bukan gerakan oleh beberapa orang yang melempar batu, pemuda berpendidikan mengangkat senjata untuk (memperjuangkan) hak-hak politik mendasar mereka. Di Kashmir, ini adalah gerakan massa untuk (memperjuangkan) hak kami dalam menentukan nasib sendiri", katanya kepada AFP.

Pada hari Senin, atau sehari sebelum pidato Modi, seorang sumber polisi menyatakan jika aparat India telah menangkap sekitar 1000 warga Kashmir dalam upaya membendung kelanjutan demonstrasi anti India.

Menurut Inspektur Jenderal Syed Javaid Mujtaba Gillani, penangkapan itu dilakukan dalam dua minggu terakhir sebagai upaya untuk mengakhiri sebulan aksi protes.

Lebih dari 68.000 orang, yang kebanyakan warga sipil, terbunuh sejak kelompok pemberontak mulai melawan pasukan India pada tahun 1989, yang direspon tindakan keras militer India.

India menuduh Pakistan mempersenjatai dan melatih pemberontak Islam di Kashmir. Namun Pakistan membantah tuduhan tersebut, dan menyatakan hanya memberi dukungan moral atau politik bagi Kashmir. (Tribune.pk/ABCnews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.