Militan Syi'ah (foto),
Pemberontak Syi'ah Houthi di Yaman dilaporkan telah menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, ungkap laporan tim pemantau PBB.

Laporan setebal 105 halaman itu diserahkan oleh sebuah panel khusus kepada DK PBB dan mencover konflik Yaman sepanjang 6 bulan terakhir.

"Panel telah mendokumentasikan pelanggaran hukum perang (humaniter) dan HAM internasional yang dilakukan oleh pasukan Houthi-Saleh, serta pihak koalisi pimpinan Saudi dan pasukan pemerintah sah Yaman", kata laporan itu.

Laporan panel ini mengatakan bahwa Houthi sengaja menyembunyikan milisi maupun persenjataannya di dekat lokasi warga sipil di daerah al-Mukha, provinsi Taiz, dengan bertujuan untuk menghindari serangan.

Cara seperti ini adalah bentuk pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan internasional.

Panel PBB mengungkap, kelompok pemberontak Syi'ah tersebut telah menjarah sekitar USD 100 juta tiap bulan dari bank sentral Yaman untuk membiayai operasi mereka.

Menyebabkan penurunan drastis cadangan devisa bank sentral Yaman menjadi tinggal USD 1,3 miliar pada Juni 2016, dari sebesar USD 4,6 miliar pada November 2014.

Sumber politik dan bank sentral Yaman juga mengatakan bahwa Houthi kemungkinan mendapat lebih banyak uang dari rakyat Yaman, karena setelah merampas ibukota Sana'a mereka segera mendaftarkan ribuan milisinya menjadi "tentara pemerintah".

Kantor berita Reuters menyebut belum ada tanggapan dari pemberontak Syi'ah Houthi dan sekutunya atas laporan ini.

Menurut laporan itu, pelanggaran juga dilakukan oleh koalisi militer pimpinan Arab Saudi, dengan mengebom rumah warga sipil di desa al-Mahala pada bulan Mei. Pemantau juga sedang menyelidiki tiga kasus lain dimana warga sipil dibom.

Pada hari Kamis, hasil penyelidikan pihak koalisi atas serangan ke pasar, klinik dan acara pernikahan, sebagian besar menyatakan pembenaran karena lokasi tersebut terdapat milisi bersenjata.

Sebelumnya Arab Saudi mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mematuhi hukum kemanusiaan internasional.

Aliansi Arab, yang merupakan gabungan negara Sunni, terjun dalam perang Yaman sejak Maret 2015 untuk mendukung pemerintah sah melawan pemberontak Syi'ah Houthi dan loyalis mantan diktator Abdullah Saleh, yang didukung Iran.

Panel juga mengawasi penerapan embargo militer terhadap Houthi dan Abdullah Saleh sesuai resolusi DK PBB. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.