Omran 5 tahun (foto),
Lembaga penyiaran pemerintah China, Minggu (21/8), mempertanyakan keaslian rekaman video seorang bocah Suriah yang menjadi viral di seluruh dunia setelah diunggah ke media sosial.

Mereka menduga video itu dipalsukan sebagai bagian dari perang "propaganda" Barat.

Video tersebut menampakkan Omran Daqneesh yang berusia 5 tahun berlumur darah dan debu setelah tempat tinggalnya terkena serangan udara di Aleppo, Rabu pekan lalu.

Walau tak terlibat langsung dalam konflik, Beijing mendukung rezim Suriah yang dipimpin Basyar al-Assad dan sekaligus sekutu Rusia. 2 pihak ini melancarkan serangan ke wilayah oposisi di Aleppo timur.

Lembaga penyiaran resmi China, CCTV, dalam laporannya di akhir pekan, mempertanyakan video Omran, dan menampilkan berita tentang rekaman itu dengan judul "video yang diduga palsu".

"Para kritikus menduga (video tersebut) merupakan bagian dari perang propaganda, yang ditujukan untuk menciptakan alasan 'kemanusiaan' agar negara-negara Barat bisa terlibat di Suriah", kata narator laporan tersebut.

"Para pekerja tidak melakukan upaya penyelamatan dengan cepat, sebaliknya malah mengambil gambar dengan cepat", tambahnya.

Omran, saudara dan orang tuanya diselamatkan dari reruntuhan setelah serangan bom pada Rabu di kawasan Qaterji di Aleppo timur yang dikuasai FSA.

Dalam rekaman video itu, pandangan Omran terlihat menerawang dalam sebuah ambulans, sebelum berusaha menyeka dahinya yang berlumuran darah, kemudian melihat tangannya.

Kakak laki-laki Omran, Ali, meninggal pada Sabtu malam akibat luka yang diderita dalam pengeboman tersebut, ungkap sebuah kelombok pemantau dan aktivis setempat.

Rusia membantah melancarkan serangan tersebut, seperti dilaporkan AFP. Sementara aktivis Suriah melaporkan bahwa jet Moskow terbang dari Latakia, yang beberapa menit kemudian terjadi serangan di Aleppo timur.

Informasi tentang Omran kecil yang terluka tidak hanya berasal dari video dari rilisan aktivis media AMC, namun juga dari berbagai kesaksian langsung, termasuk tenaga medis di rumah sakit tempat anak itu dibawa.

Muhammad al-Ahmad, seorang perawat radiologi yang berada di ruang gawat darurat ketika Omran tiba sekitar 21:00. Ia menderita memar dan luka di sekujur tubuhnya.

"Anak itu terluka. Ia tidak berbicara ketika baru tiba. Beberapa menit kemudian, (barulah) ia mulai menangis akibat rasa sakit", kata Ahmad.

Ahmad membersihkan wajah Omran serta memperban kepalanya, namun dokter tidak menemukan adanya cedera parah di bagian otak.

Mereka juga sempat mengambil gambar anak itu setelah selesai diperban bagian kiri kepalanya.

Omran saat dirawat
Dari pantauan Risalah, setelah video Omran mendunia, banyak pihak dari kalangan Syi'ah dan pendukung Assad/Rusia memang giat melakukan kampanyenya agar publik meragukan "kebenaran" peristiwa itu. (Antaranews/New York Times)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.