Serangan gas kimia terbaru di kota Aleppo timur (foto),
Sebanyak 15 dari 35 dokter terakhir di Aleppo timur, kota Suriah yang dikuasai oposisi, menulis surat kepada Presiden AS, Barack Hussein Obama jr.

Mereka meminta Obama agar melakukan intervensi untuk menghentikan serangan udara yang menargetkan berbagai rumah sakit di kota itu oleh angkatan udara rezim Assad dan Rusia.

"Kami tidak membutuhkan (hanya) tangisan atau simpati atau bahkan doa. Kami sungguh sangat membutuhkan sebuah zona aman dari pengeboman di Aleppo timur, penghentian serangan, dan aksi internasional untuk memastikan Aleppo tidak pernah dikepung lagi", tulis para dokter, dikutip oleh The Guardian, Kamis (11/8).

Surat ini ditulis menyusul pengumuman Rusia tentang gencatan senjata 3 jam sehari, yang akan dibelakukan mulai hari Kamis (11/8), dengan alasan untuk "penyaluran bantuan kemanusiaan".

Sementara Inggris menyebar rencananya di PBB, New York, agar gencatan senjata untuk bantuan kemanusiaan dilakukan oleh aktor yang berimbang, bukan militer Rusia dan rezim Assad.

Tidak ada perubahan berarti dalam jeda serangan seperti yang dimumkan Rusia. Rezim Assad dan sekutunya (milisi Syi'ah) terus meluncurkan serangan ke pihak oposisi, tidak ada tanda penghentian dengan alasan kemanusiaan.

"Itu bohong. Selama masa gencatan senjata (yang dijanjikan Rusia), tetap ada serangan udara dan ada banyak korban luka di Aleppo hari ini. Dokter lainnya telah memberitahu kami bahwa mereka juga menerima korban luka selama waktu Rusia menyatakan gencatan senjata", kata Osama Abul Izz, seorang dokter di kota itu.

Pada Rabu malam hingga Kamis dini hari, puluhan serangan udara Assad/Rusia menghantam berbagai titik di kota Aleppo. Termasuk serangan gas kimia Klorin di daerah Zabdiya yang membunuh 3 warga sipil, ermasu anak-anak.

Sementara melalui surat bersama itu, para dokter mendesak presiden AS agar bertindak sekarang untuk menghentikan bom yang terus menghujani kota dan memastikan kota itu tidak pernah dikepung lagi.

"Selama lima tahun, kami telah melihat banyak kematian setiap hari. Tapi sekarang kami melihat kematian dari semua penjuru. Selama lima tahun, kami menjadi saksi atas pasien yang tak terhitung jumlahnya, teman dan kolega yang menderita kekerasan, kematian akibat penyiksaan", tulis mereka dalam suratnya.

"Selama lima tahun, dunia menaruh perhatian dan menerangkan betapa 'rumitnya' Suriah, namun tidak banyak melakukan tindakan untuk melindungi kami. Penawaran evakuasi baru-baru ini dari rezim dan Rusia terdengar seperti ancaman terselubung pada warga: 'pergi sekarang atau pasrah pada nasib?'..", tulis surat itu.

Para dokter juga memaparkan bahwa pada bulan lalu terdapat 42 serangan ke fasilitas medis di Suriah, 15 di antaranya adalah rumah sakit tempat mereka bekerja.

Mereka menyebutkan salah satu fasilitas medis yang diserang setiap 17 jam sekali, dan dokter dipaksa untuk membuat keputusan mengerikan, yakni membiarkan anak-anak meninggal karena kekurangan darah dan keterbatasan kemampuan fasilitas medis untuk menangani korban.

"Dengan kondisi seperti ini, (sistem) pelayanan medis kami di Aleppo bisa hancur dalam satu bulan, menyebabkan 300 ribu orang tewas", ujar para dokter.

"Apa yang paling menyakitkan kami sebagai dokter adalah, memilih siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati. Anak-anak terkadang dilarikan ke ruang gawat darurat dengan luka yang begitu parah sehingga kami harus memprioritaskan korban dengan peluang (hidup) lebih baik, dan terkadang kami tidak memiliki peralatan untuk membantu mereka", ungkap para dokter, menjelaskan kondisi mengerikan kemampuan medis kota itu.

"Dua pekan lalu, empat bayi yang baru lahir terengah-engah berupaya bernafas namun akhirnya mati lemas setelah ledakan memutus pasokan oksigen ke inkubator mereka. Hidup mereka berakhir sebelum dimulai", tulis para dokter.

Mereka juga memperingatkan Obama, bahwa "kecuali jalur pertolongan ke Aleppo benar-benar dibuka secara permanen, hanya soal waktu sampai kami dikepung lagi oleh pasukan rezim, kelaparan dan perlengkapan rumah sakit habis".

"Kami tidak perlu memberitahu anda tentang penargetan rumah sakit secara sistemis yang dilakukan oleh rezim Suriah dan pesawat tempur Rusia sebagai kejahatan perang. Kami tidak perlu memberitahu anda bahwa mereka melakukan kekejaman di Aleppo", jelas para dokter.

Jet tempur Assad dilaporkan mengebom sejumlah fasilitas medis di kota Aleppo timur dalam rangka meneror 250 ribu hingga 300 ribu warga sipil yang terkepung di dalam kota itu, agar menyerah atau terancam kelaparan dan harus melarikan diri.

Beberapa dokter menolak menandatangani surat tersebut karena pesimis dan tidak lagi punya keinginan untuk membuat permintaan kepada Barat.

Nama-nama para dokter yang terdapat dalam surat itu belum terverifikasi. Namun, kesaksian mereka dalam surat itu mendukung sejumlah bukti yang diberikan oleh dokter AS untuk pemantau PBB setelah melakukan kunjungan kerja ke rumah sakit Aleppo dalam dua pekan terakhir.

Aleppo adalah kota terbesar kedua di Suriah dan simbol penting dalam revolusi Suriah. Jika sepenuhnya berhasil direbut kembali oleh pasukan rezim, maka akan semakin menguatkan posisi Basyar al-Assad yang mendapat dukungan militer dari Rusia dan ribuan milisi Syi'ah asing.

Aleppo timur sempat terkepung secara efektif oleh Assad selama satu bulan sejak Juli, namun gabungan kelompok oposisi berhasil menembusnya pekan lalu.

Mantan pemimpin Liberal Demokrat Inggris, Lord Ashdown, mendesak kementerian Kerajaan Inggris agar mengakhiri kebisuan mereka dan menyuarakan penentangan atas pembantaian di Suriah.

"Inggris harus bertindak cepat dan tegas untuk menciptakan akses (bantuan) kemanusiaan ke Aleppo, dan jika perlu memberikan rencana pada Angkatan Udara Inggris (RAF) untuk membantu penyebaran bantuan lewat udara kepada warga yang terkepung". (The Guardian/CNN Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.