Houthi (foto),
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, menyerukan agar Yaman jangan sampai dikuasai oleh kelompok pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran. Jubeir menuding Iran berupaya menyebar kerusuhan di kawasan Arab.

Pembicaraan perdamaian antara Houthi dan pemerintah Yaman yang diinisiasi PBB terhenti bulan ini. Bersamaan dengan pasukan loyalis dengan mantan diktator Ali Abdullah Salleh dan Houthi yang terus meluncurkan serangan roket ke arah Arab Saudi.

Upaya perdamaian kandas setelah Houthi dan Kongres Rakyat Umum yang dipimpin Saleh mengumumkan pembentukan dewan pemerintahan beranggotakan 10 orang pada 6 Agustus lalu, yang disebuut Kongres Rakyat Umum (GPC).

Langkah sepihak ini mengabaikan peringatan dari utusan Yaman untuk PBB, Ismail Ould Cheikh Ahmed, bahwa langkah itu melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB soal penyelesaian konflik.

Kepada Reuters di Beijing, Rabu (31/8), Jubeir menyatakan bahwa kini keputusan ada di tangan Houthi apakah dialog damai bisa kembali dilakukan.

"Satu hal yang pasti, yang tidak bisa dipertanyakan lagi, adalah bahwa mereka tidak akan diperbolehkan mengambil alih Yaman. Titik. Jadi, pemerintah yang sah akan dipertahankan", kata al-Jubeir.

"Peluang yang mereka punya adalah memasuki proses politik dan mencapai kesepakatan. [Ini] untuk kepentingan seluruh rakyat Yaman termasuk Houthi", ujarnya.

Di hari yang sama, dalam pidato di hadapan mahasiswa di Universitas Beijing, Jubeir mengecam Iran.

"Kami lihat Iran mendukung Houthi di Yaman dan mencoba mengambil alih pemerintah, memasok senjata bagi Houthi, menyelundupkan bahan peledak ke Bahrain, Kuwait dan Arab Saudi", katanya.

"Kami harap kami bisa menjadi tetangga yang baik seperti sebelum revolusi 1979", ujar Jubeir.

"Terserah pada Iran untuk memperbaiki sikapnya", tuturnya.

Saudi dan sekutunya menuding Houthi sebagai perpanjangan tangan dari Iran.

Sejak Maret 2015, Saudi meluncurkan intervensi militer di Yaman, dengan tujuan untuk mengembalikan kekuasan Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi, yang terusir dari ibu kota Sana'a dan kini berbasis di Aden.

Sementara Houthi bersikukuh meluncurkan pemberontakan. Untuk menggalang kekuatan, Houthi membentuk aliansi dengan loyalis mantan diktator Yaman, Abdullah Saleh.

Houthi dan GPC menguasai sebagian wilayah di utara Yaman, sementara pasukan pemerintahan yang terusir mengontrol sejumlah wilayah yang tersisa di negara itu.

PBB melaporkan setidaknya 10 ribu orang tewas di Yaman akibat konflik yang sudah berlangsung selama 18 bulan. Jumlah ini merupakan yang tertinggi dibanding data resmi dari berbagai pejabat dan pekerja kemanusiaan.(CNN Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.