Kenampakan ruang ibadah gereja (foto),
Sebuah rudal udara dari pesawat tempur Rusia/Assad menghantam langsung satu-satunya gereja di kota Idlib pada hari Rabu (10/8). Menyebabkan kerusakan parah pada tempat ibadah dari sisa umat Kristen yang masih bertahan di kota itu.

Serangan udara menjebol dinding luar gereja bersejarah, Virgin Mary, yang dibangun pada abad 19 ketika warga Kristen awal membangun komunitasnya di kota Idlib. Bom juga menghancurkan marmer iconostasis (lukisan dinding spiritual Kristen khas gereja timur).

Sebelum perang, ada sekitar 2.000 warga Kristen Suriah yang biasanya mengisi bangku gereja Virgin Mary, yang berdiri sejak tahun 1886 pada masa Turki Utsmani. Hari ini, sangat sedikit umat Kristen yang masih menetap.

"Hanya tersisa satu atau dua saja keluarga Kristen lama yang masih tersisa", ujar George Michel Jabbour, mantan warga Kristen di Idlib yang telah pergi ke luar negeri, seperti dikutip Syria Direct, Kamis (11/8).

Komunitas Kristen Idlib sebagian besar mengungsi secara massal pada awal perang. Namun, pada tahun 2015, gelombang kedua perpindahan terjadi lagi ketika kemenangan kelompok Islamis Jaisyul Fath di kota tersebut.

Selain ada yang berpendapat mereka pergi karena kelompok Islam "garis keras" menguasai kota, ada pula yang menilai umat Kristen Idlib pergi karena upaya rezim Assad menimbulkan ketegangan agama dengan menakut-nakuti minoritas.

"Ketika Jaisyul Fath masuk Idlib, rezim mengatakan kepada kami bahwa pemberontak akan menyembelih kami", kata Wael Ahmed, seorang Kristen dan mantan anggota Bulan Sabit Merah.

"Mereka (rezim) memprovokasi ketakutan di kalangan komunitas Kristen", tambahnya.

Syria Direct juga mewawancarai empat warga kota Idlib, baik Kristen maupun Muslim, yang mengecam eksploitasi rezim Assad dalam politik sektarian atau sentimen agama untuk meraih tambahan dukungan dari kelompok minoritas.

"Rezim mungkin mengatakan bahwa mereka adalah pelindung minoritas sebagai upaya untuk menggalang dukungan. Tapi minoritas merasa menanggung beban oleh kebrutalan rezim...", ujar Mutia Jalal, anggota kelompok Pertahanan Sipil Idlib.

"Warga Kristen bahagia hidup berdampingan di kota (Idlib)", kata George Michel Jabbour.

"Tapi rezim berhasil menakut-nakuti minoritas... Sayangnya pola pikir itu masih terus ada", keluhnya. (Syria Direct)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.