Bulan Sabit Merah Suriah mengurus pemindahan warga (foto),
Setelah pecah perlawanan bersenjata sejak 2012, kini kota terkepung Daraya yang terletak di selatan Damaskus akhirnya secara resmi jatuh ke tangan rezim Assad.

Sebuah kesepakatan antara rezim dengan kelompok oposisi lokal tercapai pada hari Kamis untuk menyerahkan kota itu dan mengeluarkan penghuninya.

Menurut kantor berita Reuters, saksi mata menyatakan ada enam bus yang meninggalkan kota. Sementara rekaman di televisi pro rezim menunjukkan bus melaju dengan hati-hati melewati sekelompok besar pasukan di jalanan yang dipenuhi puing.

Sekitar 8.000 warga sipil dan 800 pejuang oposisi akan dievakuasi dari kota di pinggiran Damaskus itu. Jauh menyusut dari 250 ribu orang sebelum perang.

Hasyim Ahelbarra, koresponden Al-Jazeera di Gaziantep, Turki, menyatakan bahwa oposisi "dipaksa menandatangani kesepakatan" tersebut.

"Selama hampir empat tahun, warga Daraya telah hidup di bawah pengepungan (Assad), warga sipil tewas akibat kelaparan maupun oleh pasukan rezim, ini adalah kesepakatan yang memaksa oposisi agar menandatanganinya. Sekarang kita akan melihat warga sipil dipindah ke Sahnaya (sebuah kota di provinsi Damaskus) yang ada di bawah kendali rezim", katanya.

Sementara anggota pejuang oposisi di Daraya akan dibawa ke provinsi Idlib, untuk bergabung dengan Jaisyul Fath.

Hanya ada 2 grup bersenjata di kota Daraya, yaitu Ajnad Syam dan Syuhada Islam, keduanya bersekutu dengan Jaisyul Fath walau terpisah jauh.

Namun, para aktivis mengungkapkan keprihatinannya terkait keselamatan warga sipil, dimana banyak dari mereka adalah kerabat dari pejuang oposisi, sementara jaminan dari pihak rezim sangat kecil.

PBB tidak dilibatkan dalam kesepakatan
Dalam sebuah pernyataan oleh Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, menyebut bahwa pihaknya tidak dilibatkan untuk konsultasi kesepakatan itu.

PBB sendiri sejak lama telah menyerukan diakhirinya pengepungan atas kota Daraya.

Pengamat menilai strategi rezim Assad menciptakan kelaparan melalui pengepungan ketat telah "berhasil" dengan dikuasainya kota itu.

Penasehat Dewan Pengungsi Norwegia, Muhammad, mengatakan bahwa berakhirnya pengepungan warga di kota itu merupakan langkah positif, meski timnya prihatin terkait perlindungan warga sipil dan setiap evakuasi harus terjadi dengan sukarela.

"Harus ada akses kemanusiaan sepenuhnya dan warga sipil harus dilindungi berdasarkan hukum perang (humaniter) internasional", katanya.

Namun beberapa kelompok oposisi mengkritik keputusan itu, karena dianggap sebagai kemunduran besar, dimana warga Sunni diusir dari rumah mereka.

"Ini adalah pola rezim untuk mengusir kaum Sunni dari lingkungan yang telah ditinggali di selama puluhan tahun. Pada 2015, (juga) ada kesepakatan serupa di Zabadani di pinggiran ibukota (Damaskus)", tulis sumber Al-Jazeera.

Daraya mulai dikepung rezim Assad pada bulan November 2012. Sejak saat itu hanya satu kali kota tersebut menerima bantuan luar melalui PBB, yaitu di bulan Juni lalu.

Sebelum perang, kota yang mayorias berpenduduk Muslim Sunni ini menjadi lokasi demonstrasi menolak rezim Assad yang didominasi penganut Syi'ah Nushairiyah (Alawite).

Pada tahun 2012, ratusan orang dibantai di Daraya, terutama warga sipil, di tangan pasukan rezim Assad dan milisi bayaran Syabihah.

Ketika penduduk lokal mulai melakukan perlawanan bersenjata, serbuan militer dilakukan, termasuk eksekusi terhadap warga sipil secara massal.

Kota ini juga terus dihantam serangan bom Birmil oleh helikopter rezim Assad, dan dijuluki sebagai "ibukotanya bom Birmil". (Al-Jazeera/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.