Tank Abrams andalan AS (foto Wikipedia),
Seperti diungkap Pentagon pada hari Selasa (9/8), Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui potensi penjualan lebih dari 130 tank tempur Abrams, 20 kendaraan lapis baja dan peralatan militer lainnya, senilai sekitar USD 1,15 miliar (sekitar Rp 15 triliun), kepada Arab Saudi.

Persetujuan penjualan peralatan militer angkatan darat ini bertepatan dengan operasi baru koalisi Arab, pemerintah Yaman dan suku Sunni ke ibukota Sana'a yang masih diduduki oleh pemberontak Syi'ah Houthi dan loyalis mantan diktator Abdullah Saleh.

Menurut Badan Kerjasama Pertahanan Keamanan AS, yang mengimplementasikan penjualan senjata bagi pihak asing, perusahaan General Dynamics akan menjadi kontraktor utama penjualan senjata pada Saudi.

"Penjualan ini akan meningkatkan fungsi antar sistem dari Angkatan Darat Kerajaan Arab Saudi (RFSL) dengan pasukan AS, serta menyampaikan komitmen AS untuk modernisasi angkatan bersenjata dan pertahanan Arab Saudi", kata badan tersebut kepada pihak Kongres AS.

Kongres memiliki waktu 30 hari untuk membatalkan penjualan, meskipun hal tersebut jarang terjadi.

Arab Saudi dan sebagian besar negara Teluk, telah melancarkan operasi militer di Yaman untuk membantu pemerintah sah Yaman melawan pemberontah Syi'ah dan sekutunya sejak Maret 2015.

Pada hari Selasa, koalisi pimpinan Saudi dilaporkan kembali melakukan serangan udara di ibukota Sana'a setelah sempat berhenti selama lima bulan, karena upaya perundingan damai di Kuwait yang telah gagal pekan lalu.

Warga Sana'a kembali tersentak oleh serangan udara tersebut, yang sempat nihil selama berbulan-bulan.

Menurut sumber medis lokal, sebanyak sembilan warga sipil tewas akibat serangan udara ke sebuah pabrik keripik Kentang di distrik Nahda, ibukota Sana'a.

Kelompok HAM dan pejabat Barat kerap mengkritik serangan udara koalisi Arab di Yaman, karena dituding menyebabkan jatuhnya korban sipil.

Di darat, pasukan pro pemerintah Yaman terus melancarkan serang ke kantong-kantong militer Houthi di pinggiran ibukota Sana'a.

Militan Houthi dan loyalis Saleh belakangan juga kembali menyerang perbatasan Saudi.

Pertempuran darat kembali berkobar sejak hari Sabtu pasca gagalnya perundingan politik di Kuwait.

Houthi dan Abdullah Saleh secara sepihak ingin menerapkan klaim kekuasaan atas Yaman, dimana hal ini bertentangan dengan resolusi PBB. (Reuters/Telegraph)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.