Santri di Pattani (foto),
Konflik di Thailand selatan
Perlawanan di Thailand selatan berakar dari masalah ratusan tahun lalu antara masyarakat Muslim Melayu di wilayah itu dengan Kerajaan Thailand yang secara de facto menjadikan Buddha sebagai agama negaranya.

Beberapa wilayah Melayu Muslim berhasil diduduki oleh Kerajaan Thailand (Siam) pada akhir abad ke 18, dimana sebelumnya berdiri Kesultanan Islam Patani (berbeda dengan Pattani). Inggris mengakui penguasaan Thailand atas wilayah itu pada tahun 1909.

Sebagian lain bekas wilayah Kesultanan Patani menjadi bagian dari negara Malaysia. Sementara yang dikontrol Thailand terus bergejolak hingga hari ini.

Rezim Bangkok mulai melakukan intervensi untuk menghapus identitas Melayu (Muslim) dengan pemaksaan identitas nasional Thailand berdasar UU kebudayaan.

Termasuk mengusik kurikulum di sekolah-sekolah Islam, pemaksaan penggunaan aksara serta bahasa, penghapusan peradilan Islam tradisional (adat) dan kemudian hilangnya tokoh-tokoh Muslim secara misterius.

Selain diskriminasi tersebut, pembangunan atau pemerataan ekonomi Thailand juga tidak menyentuh ke wilayah Muslim ini.

Sejak dekade 40-an, tokoh Muslim Melayu di bekas Kesultanan Patani telah mengampanyekan tuntutan otonomi, kebebasan penggunaan bahasa, budaya, dan hak menerapkan hukum Islam sendiri.

Kelompok bersenjata dibentuk pertama kali pada akhir 50-an. Namun pemberontakan bersenjata ini memudar pada era 1990-an.

Pada tahun 2000-an, gerakan perlawanan bersenjata kembali mulai menggeliat. Mencapai puncaknya di tahun 2004, menyebabkan Bangkok mengirim banyak tentaranya ke wilayah selatan.

Perlawanan terdiri dari banyak sel-sel pejuang lokal, juga terbentuk organisasi bernama Barisan Revolusi Nasional atau BRN, dan kelompok lainnya. Termasuk kehadiran kecil para "jihadis" dan militan garis keras.

Tujuan mereka beraneka ragam, ada yang menginginkan kemerdekaan penuh dan juga meminta otonomi seluas-luasnya sebagai opsi yang lebih diterima bersama.

Perlawanan pejuang lokal terhadap militer Thailand terjadi secara gerilya di bentang alam yang memang mendukung.

Beberapa laporan kelompok HAM menyatakan bahwa militer Thailand melakukan berbagai kekerasan dan penyiksaan terhadap orang-orang yang dituduh terlibat pemberontakan.

Pertemuan untuk negosiasi damai antara rezim Bangkok dan pemberontak telah terjadi beberapa kali, melalui inisiasi pemerintah Malaysia maupun Indonesia.

Pada tahun 2013, tercapai sebuah kesepakatan mengenai pembicaraan awal antara Bangkok dan kelompok perlawanan Islam di Kuala Lumpur.

Negosiasi antara perwakilan pemberontak dengan Thailand dimulai pada 2015, dimana Malaysia sebagai penengah.

Hingga hari ini, wilayah selatan Thailand masih menjadi zona militerisasi. Pos-pos militer Thailand ada dalam jarak tiap 500 meter dan tiap desa.

Masyarakat Muslim setempat saat ini tetap percaya masih ada tindakan-tindakan militer untuk "menghilangkan" tokoh-tokoh Islam yang dianggap berbahaya.

Partisipasi Melayu Muslim juga sangat kecil dalam pemerintahan di wilayahnya sendiri.

Solidaritas untuk Pattani!

Mari sukseskan Kurban 2016 bersama Misi Medis Sosial

Harga 1 Sapi Rp 12.000.000 per orang

Harga 1 Sapi kelompok untuk 7 orang, @Rp 1.750.000

Harga Kambing/Domba Rp 3.500.000

# MANDIRI 9000 0193 3072 0
(Kcp. Katamso, Yogyakarta)


# BCA 1691 9677 49
(Kcu. Ahmad Dahlan, Yogyakarta)


# BRI 0029 0110 9997 500
(Kcu. Cik Ditiro, Yogyakarta)


# BNI 0317 5635 23
(Kcp. Parang Tritis, Yogyakarta)
Semua atas nama IKRIMAH


Konfirmasi (Wajib): Mochtar Malvin [WA&Sms] 087841556155)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.