Utusan kemanusiaan PBB di Yaman, Jamie McGoldrick (foto),
Laporan terbaru PBB menyebutkan sedikitnya 10 ribu orang tewas dalam konflik di Yaman yang telah berlangsung sejak Maret 2015. Jumlah ini naik dari laporan sebelumnya yang mencapai 6 ribu orang.

Diberitakan Reuters, angka korban tewas terbaru ini diperoleh berdasarkan informasi resmi dari berbagai fasilitas medis di Yaman.

Koordinator kemanusiaan PBB Jamie McGoldrick yang menyampaikan laporan ini mengatakan, korban tewas mungkin lebih banyak karena beberapa wilayah di Yaman tidak memiliki fasilitas medis atau adanya warga yang tewas terkubur puing dan tidak terdata.

Badan HAM PBB pekan lalu melaporkan, 3.799 warga sipil tewas terbunuh dalam konflik, dengan serangan udara koalisi Saudi bertanggung jawab atas 60 persen kematian tersebut.

McGoldrick tidak mengetahui jumlah korban tewas dalam laporannya, namun dia menekankan konflik ini telah membuat tiga juta warga Yaman kehilangan tempat tinggal.

Sekitar 200 ribu terpaksa mengungsi ke luar negeri. PBB mencatat, sekitar 900 warga Yaman yang mengungsi berniat kembali ke kampung halaman.

Sekitar 14 juta dari 26 juta warga Yaman butuh bantuan makanan dan 7 juta di antaranya terancam krisis pangan. McGoldrick mengatakan, situasi warga Yaman kian tragis.

"Bantuan kemanusiaan saja tidak bisa menyelesaikan masalah ini", katanya.

Perundingan damai yang digagas PBB berakhir awal bulan ini tanpa hasil. Negosiasi yang gagal terjadi karena pertempuran yang masih saja terjadi di Yaman.

Konflik di Yaman bermula saat kelompok bersenjata Syi'ah Houthi yang dibekingi Iran dan loyalis mantan diktator Ali Abdullah Saleh menawan pemerintahan presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, saat mencaplok Sana'a pada September 2014.

Konflik ini kian panas setelah Presiden Hadi mendapatkan dukungan dari Arab Saudi yang langsung mengerahkan pasukan udara.

Dewan Keamanan PBB pun mengeluarkan Resolusi no. 2216 tahun 2015 yang mendesak penarikan mundur militan Syi'ah dari kota-kota yang diduduki secara sepihak.

Termasuk embargo dan pembekuan aset yang diterapkan pada beberapa pimpinan Houthi dan Abdullah Saleh.

Gencatan senjata yang dilanjutkan sebuah perundingan damai sempat terjadi pada tahun ini di Kuwait, namun hasilnya buntu.

Pihak Houthi dan Saleh mengumumkan secara sepihak kontrol atas Yaman dengan membentuk Dewan Gubernur, hal ini dipandang ilegal dan menentang Resolusi PBB.

Koalisi pimpinan Saudi kemudian kembali melancarkan serangan udara, bersamaan dengan pergerakan pasukan pro pemerintah dan suku Sunni ke arah ibukota Sana'a yang diduduki Houthi.

Awal pekan ini Houthi menyatakan setuju kembali ke meja perundingan dengan syarat penghentian serangan udara koalisi Arab.

Sementara menurut Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, dalam sebuah pertemuan di Jeddah, Houthi harus berhenti menembakkan meriam di sekitar perbatasan Saudi dan menarik milisi mereka dari Sana'a.

Houthi juga diminta melucuti senjatanya, sehingga pembentukan pemerintahan baru mungkin terjadi. (CNN Indonesia/Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.