Vihara dan Kelenteng dibakar
Warga Tanjung Balai, Sumatra Utara, sepakat menghentikan kekerasan dan mencegah adanya tindak lanjutan menyusul kerusuhan yang membuat sembilan rumah ibadah terbakar.

Kesepakatan ini diperoleh dalam pertemuan berbagai organisasi masyarakat, pemerintah daerah dan kepolisian pada Sabtu (30/7).

"Terbentuk kesepakatan agar tercipta kesejukan dan kedamaian setelah kejadian semalam. Agar tidak ada lagi situasi yang membuat panas", kata Ketua Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat, Forkala, Arifin, kepada CNN Indonesia.

Sedikitnya tiga Vihara, enam Kelenteng dan beberapa mobil terbakar dalam kerusuhan Sabtu dini hari. Kejadian ini dipicu kemarahan warga akibat protes seorang wanita Tionghoa pada pengeras suara masjid di depan rumahnya.

Kabar yang menyebar lebih luas lewat media sosial dianggap telah menjadi pemicu kemarahan massa lebih luas, menyebabkan tempat-tempat ibadah yang dinilai berhubungan dengan 'orang China' menjadi sasaran.

Kerugian akibat peristiwa itu ditaksir miliaran rupiah. Polisi telah menahan tujuh orang terduga pembakar Vihara.

"Warga Tionghoa meminta diciptakan perdamaian dan agar persaudaran tetap terjaga", ujar Arifin.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara, Komisaris Besar Rina Sari Ginting, kerusuhan semacam ini tidak pernah terjadi sebelumnya di Tanjung Balai.

"Sebelumnya kejadian seperti ini belum pernah terjadi. Masyarakat Tanjung Balai heterogen dan selama ini kondisinya baik-baik saja", kata Rina.

Menurut data statistik pemerintah kota, terdapat lebih dari 167 ribu jiwa di Kota Tanjung Balai. Sebanyak 9,3 persen di antaranya adalah warga keturunan Tionghoa.

Camat Tanjung Balai Selatan tempat kerusuhan berlangsung, Pahala Zulfikar, mengatakan ini adalah kali pertama kerusuhan antar etnis pecah di tempat itu sejak tahun 1998.

"Selama ini warga hidup harmonis, tidak pernah ada gesekan", ujar Zulfikar.

Dalam pertemuan hari ini dibicarakan antisipasi soal kelanjutan kerusuhan. Antisipasinya melibatkan para tokoh agama.

Zulfikar mengatakan, koordinasi untuk pencegahan kekerasan digalang antara Forum Komunikasi Umat Beragama, kemudian berkoalisi dengan MUI dan dengan Forum Masyarkat Tionghoa. (CNN Indonesia/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.