Mayat yang diduga kuat sebagai Santoso (foto),
Pimpinan organisasi teroris "Mujahidin Indonesia Timur" yang membaiat ISIS, Santoso, dilaporkan telah tewas dalam baku tembak dengan aparat gabungan TNI-Polri dalam operasi Tinambola.

Kabar tewasnya Santoso datang tak sampai sepekan setelah dilantiknya Jenderal Pol. Drs. H.M. Tito Karnavian sebagai Kapolri.

Saat masih menjabat menjadi kepala BNPT, Tito pernah berjanji akan secepatnya menuntaskan Santoso di pegunungan Poso.

Santoso sendiri masuk kali pertama daftar pencarian orang Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri sejak 5 Mei 2012. Artinya butuh waktu lebih dari empat tahun untuk mengatasi buron paling dicari itu.

Berdasarkan daftar terduga teroris Markas Besar Polri nomor DTTOT/P-1B/2171/XII/2015 tanggal 22 Desember 2015 yang ditandatangani Jenderal Badrodin Haiti, Santoso diketahui berusia 40 tahun.

Santoso yang kelahiran Tentena, 21 Agustus, juga punya banyak nama alias. Diantaranya adalah Abu Wardah, Waluyo, San, Pak de, Komandan, Kepala Sekolah, dan Pak Bos. Ia pun masih tercatat sebagai warga Desa Tambarana, Dusun II Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso.

Sosoknya digambarkan memiliki tahi lalat diantara alis dan mempunyai tinggi badan 173 cm.

Menurut CNN Indonesia, kiprah Santoso berawal dari konflik agama di Poso, tahun 2003 silam. Kala itu, konflik juga melibatkan tokoh-tokoh dari berbagai daerah yang begabung di kota tersebut, termasuk Santoso.

Setelah konflik mereda, para tokoh itu kembali ke daerah masing-masing dan melanjutkan pergerakannya dalam kelompok kecil. Santoso menjadi pemimpin kelompok Tambarana dan melakukan serangkaian aksi teror.

Selain kelompok Tambarana, ada pula kelompok Kayamanya, Mapane dan Masjid Rutan Poso dan Palu. Kelompok-kelompok ini adalah sumber personel yang kemudian jadi pengikut Santoso.

Gerakan yang berangkat dari konflik lokal ini kemudian disebut-sebut mulai berhubungan dengan jaringan intenasional Jama'ah Islamiyah, melalui salah satu organisasi yang dianggap terkait, yaitu Jama'ah Ansharut Tauhid (JAT) di Kayamanya di 2010.

Saat itu, Santoso berniat untuk mempersatukan pengikutnya dengan jaringan yang dipimpin oleh Abu Bakar Ba'asyir.

Desember tahun yang sama, kelompok JAT cabang Poso dibentuk. Santoso menjabat sebagai pengurus bidang asykari atau pelatihan militer. Namun, JAT membantah keras ada pelatihan militer dalam programnya.

Pelatihan militer tercatat berlangsung setidaknya sampai 2013. Belakangan, pelatihan ini banyak diikuti peserta dari Poso dan Bima, serta diyakini masih terus berlangsung meski digempur habis-habisan.

Materi yang diajarkan adalah cara menggunakan senjata api, bela diri dan membaca peta. Selain itu, diajarkan cara membuat bom dan ranjau.

Para peserta pelatihan militer itu juga belakangan tercatat melakukan aksi teror. Santoso sendiri diyakini memerintahkan anak buahnya, Rafli alias Furqon, untuk memimpin serangan ke Bank BCA Palu dan mengambil senjata polisi.

Sejak itu, kelompok-kelompok garis keras lain di Indonesia kerap mengirimkan anggotanya untuk berlatih bersama Santoso. Di saat yang sama, mereka juga berbagi informasi maupun pemahaman masing-masing.

Salah satu tokoh jaringan nasional yang terlibat di sini adalah Daeng Koro, yang kemudian tewas dalam baku tembak 2015 lalu.

Selain itu, kelompok Bima juga mengirim anggotanya dan beberapa diantaranya masih menempel kelompok Poso hingga saat ini.

Di luar dua kelompok tersebut, ada juga jaringan Abu Roban dan simpatisan al-Qaeda Indonesia yang diyakini terlibat kegiatan itu.

Kontak tembak antara militan dan polisi juga terus terjadi hingga 2016. Belakangan kelompok MIT Santoso telah menyatakan berbaiat pada kelompok ultra ekstrimis ISIS.

Tak hanya itu, mereka juga berani mengancam akan menyerang Istana dan Polda Metro Jaya dalam rekaman video yang tersebar. (CNN Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.