Sepasang warga Kashmir diperiksa paramiliter India (foto),
Pemerintah India pada hari Jum'at kembali memberlakukan jam malam di kota utama Srinagar, wilayah Kashmir yang dikontrol New Delhi.

Hal tersebut dilakukan untuk mencegah aksi protes yang akan terkumpul di masjid utama, setelah seruan para pemimpin separatis, terkait kemarahan atas pembunuhan seorang pemimpin pemberontak Hizbul Mujahidin pada awal bulan ini di tangan pasukan India.

Penduduk setempat mengatakan bahwa aparat India mendatangi rumah-rumah di Srinagar sebelum fajar, meminta mereka agar tetap tinggal di dalam rumah.

Kota ini menjadi saksi bisu bentrokan sengit antara pasukan India dengan pengunjuk rasa, bahkan jam malam sudah diterapkan pasca kekerasan pada 9 Juli. Yang kemudian sempat dicabut pada hari Kamis.

Saat itu, kemarahan warga Muslim Kashmir meletus setelah pembunuhan seorang pemimpin pejuang kemerdekaan Kashmir.

Dokter di rumah sakit utama menyatakan telah merawat puluhan orang, sebagian besar dari mereka mengalami cedera oleh peluru pelet yang ditembakkan dari senapan angin pasukan keamanan India.

Seorang warga bernama Basyir Ahmed, menjelaskan, pada saat pemberlakuan jam malam polisi tidak mengizinkan tukang roti dan tukang susu untuk bekerja menyalurkan stok di daerah itu.

Aparat India dilaporkan terus menggunakan senjata pelet meski telah diminta agar lebih berhati-hati.

Menteri Dalam Negeri Rajnath Singh meminta agar penggunaan senjata diminimalisir, karena dapat menyebabkan cedera serius pada organ mata para pengunjuk rasa, bahkan beberapa korban telah mengalami kebutaan.

Pemimpin kunci kelompok pro kemerdekaan, antara lain Sayed Ali Gilani, Mirwaiz Umar Faruq dan Yasin Malik, menyerukan barisan pemrotes menuju masjid Jami' hari Jum'at sebelum Ashar, atau di tempat-tempat lain di Lembah Kashmir seusai shalat Jum'at.

Gilani dan Mirwaiz Faruq, yang divonis tahanan rumah oleh India, menolak pembatasan itu. Sehingga mereka nekat keluar dari rumah untuk berbaris menuju masjid. 

Menurut sumber polisi, keduanya telah dihentikan dan dibawa pergi ke lokasi lain. Sedangkan Yasin Malik saat ini berada dalam tahanan India.

Pasukan keamanan India juga mencegah umat Islam shalat di masjid-masjid utama di seluruh wilayah, meski tidak melarang warga yang mendatangi masjid kecil di dekat tempat tinggalnya untuk shalat Jum'at.

Toko, bisnis dan sekolah tetap tutup, dimana sebelumnya kelompok separatis meminta orang-orang agar menahan diri dari aksi protes hingga hari Jum'at.

Dalam bentrokan 3 pekan lalu, pasca pemakaman pemimpin Hizbul Mujahidin Burhan Wani, pasukan India menembaki para pemrotes Kashmir.

Setidaknya 49 warga sipil, yang sebagian besar masih remaja, menjadi korban tewas saat pasukan India menembakkan peluru tajam (senjata api) dan pelet.

Seorang polisi juga tewas setelah pengunjuk rasa mendorong kendaraannya masuk ke sungai. Sekitar 2.000 warga sipil dan 1.500 polisi/tentara/paramiliter terluka akibat bentrokan itu.

Kashmir yang merupakan wilayah mayoritas Muslim terpecah dalam klaim India, Pakistan dan China. Tuntutan pemisahan diri mengemuka di wilayah yang dikuasai India. Rakyat Muslim menuntut kemerdekaan atau bergabung dengan Pakistan.

Rezim New Delhi menuduh Pakistan mensponsori perlawanan, namun Islamabad membantahnya serta menegaskan hanya memberi dukungan politik dan diplomatik. (CBS news/Associated Press)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.