Ilustrasi kerusuhan Kashmir (foto),
Sebanyak 23 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka setelah pasukan India menembaki aksi protes warga Kashmir terkait terbunuhnya pemimpin pemberontak pro kemerdekaan di wilayah Muslim tersebut.

Ketegangan meningkat di seluruh Kashmir yang dikontrol India, pemrotes menyerang polisi dan pos-pos keamanan dengan batu maupun tongkat, pasca acara pemakaman.

Protes meletus setelah Burhan Wani, pemimpin operasi kelompok Hizbul Mujahidin, pemberontak terbesar Kashmir, terbunuh dalam baku tembak dengan pasukan India pada hari Jum'at. Ia terbunuh bersama 2 temannya.

Ribuan orang hadir dalam acara pemakaman yang kemudian berubah menjadi aksi protes massal terhadap pihak keamanan India.

Ribuan polisi, tentara dan paramiliter India disebar di lokasi kerusuhan.

Pasukan India menggunakan peluru tajam dan gas air mata untuk mengendalikan situasi. Menyebabkan ratusan warga sipil menjadi korban.

Shiv Sahai, seorang kepala intelijen kepolisian, mengatakan bahwa pengunjuk rasa menyerang polisi dan pos paramiliter di wilayah tersebut, serta menyebabkan 90 tentara pemerintah terluka.

Wani, yang baru berusia 22 tahun, telah menjadi identitas perlawanan militan Kashmir selama lima tahun terakhir. Video dan foto-fotonya telah beredar luas di kalangan pemuda setempat dalam menentang India.

Pihak keamanan India memandang pembunuhan Wani sebagai salah satu kesuksesan selama beberapa tahun belakangan dalam melawan para militan.

India telah memberlakukan jam malam, dan memutus sambungan telepon seluler maupun internet untuk mencegah mobilisasi para pengunjuk rasa.

Toko, pusat bisnis dan kantor-kantor pemerintah tutup. Menunda ujian sekolah dan perguruan tinggi, serta membekukan layanan kereta api.

India juga menutup tanpa batas waktu ritual ziarah Hindu di kawasan itu, karena takut terjadi hal tak diinginkan.

Khurram Parvez, direktur program Koalisi Masyarakat Sipil Jammu Kashmir (JKCCS) di Srinagar, menilai kematian Burhan Wani sebagai pembunuhan di luar hukum. Menurutnya, pemerintah India seharusnya bisa menangkap Wani hidup-hidup.

"Dia bergabung (dengan pemberontak) karena menjadi korban di jalanan, saudaranya disiksa, dari sinilah asal kebenciannya terhadap pemerintah India, dan inilah mengapa ia menjadi identitas warga Kashmir", ujarnya.

"Ia dicap sebagai militan ditakuti, tapi sebenarnya ia pun sering bersikap sangat politis, (misalnya) ia berbicara tentang kembalinya para Pandit dengan damai dan meyakinkan umat Hindu yang berziarah bahwa mereka tidak akan menjadi target para gerilyawan", lanjut Parvez.

"Respon yang sangat besar atas pembunuhan Burhan menjadi bukti yang jelas dari apa yang rakyat Kashmir inginkan", ujar Mirwaiz Umar Faruq, seorang tokoh agama Islam di Kashmir sekaligus pemimpin salah satu kelompok perlawanan, kepada Anadolu Agency.

Sementara itu, seorang politikus pro-India menyatakan kesedihan atas pembunuhan warga sipil serta meminta para orang tua di Kashmir agar menghentikan anak-anak mereka dari turun ke jalan.

"Kami menyerukan kepada seluruh stake holder politik dan para orang tua agar membantu pemerintah dalam menormalkan keadaan secepat mungkin", kata juru bicara pemerintah Naeem Akhter kepada wartawan, Minggu.

Kebanyakan warga Kashmir telah lama menolak kehadiran India di wilayah Muslim tersebut, mereka juga mendukung para pemberontak untuk lepas dari India, maupun opsi lain bergabung dengan Republik Islam Pakistan.

Lebih dari 68.000 orang telah tewas akibat pemberontakan maupun operasi militer tentara India.

Wilayah kuno Kashmir saat ini terpecah dalam klaim 3 negara, yaitu India, Pakistan dan China. (Al-Jazeera/Anadolu Agency/India Today/The Guardian)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.