Ilustrasi militan Syi'ah Yaman (foto),
Puluhan militan Syi'ah Houthi dilaporkan tewas dalam pertempuran sengit di perbatasan Yaman-Saudi, kantor berita milik Saudi, SPA, melaporkan pada hari Minggu.

Konfrontasi ini terjadi di tengah upaya memperpanjang pembicaraan damai antara pemerintah sah dengan kelompok pemberontak Syi'ah dan sekutunya.

Negosiasi yang disponsori PBB di ambang kehancuran setelah pecahnya pertempuran baru pada pekan lalu, antara pemerintah Yaman yang didukung koalisi Saudi dan militan Houthi yang didukung Republik Syi'ah Iran.

Namun menurut utusan PBB di Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, perundingan politik yang masih buntu tersebut akan diperpanjang hingga satu minggu lagi.

"Kami berharap para delegasi dapat memanfaatkan seminggu tersisa untuk meraih langkah kemajuan menuju perdamaian", katanya dalam sebuah pernyataan.

Militer Arab Saudi mengatakan bahwa militan Syi'ah Houthi dan sekutunya (loyalis mantan diktator Abdullah Saleh), mencoba melanggar wilayah perbatasan Saudi di daerah Rabou'a pada hari Sabtu, sehingga memicu pertempuran sengit.

Pernyataan yang dilansir SPA itu melaporkan terdapat puluhan militan Houthi yang tewas di dekat garis perbatasan, sementara kendaraan militer mereka hancur lebur oleh pesawat koalisi yang menangkis serbuan.

Di sisi lain, ada 7 orang anggota militer Saudi yang 'syahid' akibat pertempuran sengit itu, salah satunya adalah perwira.

Prospek perdamaian kian redup, ketika pada hari Kamis pemberontak Houthi dan GPC (loyalis Saleh) mendeklarasikan secara sepihak sebuah badan untuk menjalankan negara Yaman.

Langkah ini dikritik oleh Cheikh Ahmed sebagai suatu tindakan ilegal yang melanggar Resolusi DK PBB nomor 2216, dan mendesak Houthi menahan diri dari tindakan sepihak yang bisa mengikis transisi politik Yaman.

Memprotes deklarasi sepihak Houthi-Saleh, delegasi pemerintah Mansour Hadi mengatakan rencana mereka untuk menarik diri dari negosiasi.

Namun pada hari Sabtu, Ahmed mengusulkan bagi kedua belah pihak, bahwa Houthi harus menarik diri dari ibukota Sanaa, Hudaidah dan Taiz.

Lalu pembicaraan selanjutnya akan membahas tentang pembentukan pemerintahan baru yang akan melibatkan Houthi.

Pihak pemerintah Hadi menerima usulan tersebut. Houthi menolak usulan itu menjadi bentuk kerangka awal, tapi menyatakan delegasi mereka akan tetap berada di Kuwait untuk mengikuti perundingan. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.