Militer Bahrain hadapi pendemo Syi'ah (foto/ilustrasi),
Kejaksaan Bahrain mengatakan pada Selasa (26/7) tentang jumlah orang yang akan diadili pada bulan depan atas kasus keterlibatan dengan organisasi teroris, menjadi mata-mata dan serangan bersenjata kepada polisi.

Kasus ini berkaitan dengan klaim Bahrain tahun lalu yang menyebut pasukan Garda Revolusi Iran membantu menghimpun warga pelarian Bahrain dengan mendirikan sebuah kelompok teroris Syi'ah yang bernama Brigade Zulfiqar untuk mengacaukan negeri itu.

Kerajaan Muslim Sunni Bahrain berhasil mengatasi pemberontakan massa Syi'ah pada tahun 2011, yang menuntut "reformasi demokratis" atau berarti pelemahan pemerintah Kerajaan Sunni.

Setelahnya negara pulau ini dilanda serangkaian serangan teroris. Pemerintah mengatakan sebanyak 20 petugas polisi terbunuh, serta berlanjutnya kerusuhan sporadis oleh massa Syi'ah.

Bahrain telah melakukan kebijakan keras terhadap kelompok oposisi dan aktivis HAM Syi'ah, dimana hal ini mendapat kritikan Barat.

Dalam keterangan yang beredar di media sosial, kantor kejaksaan Bahrain mengumumkan telah menyelesaikan penyelidikan pada kelompok Brigade Zulfiqar dan menyerahkan kasus ini ke pengadilan.

Zulfiqar adalah pedang yang dipakai oleh sayidina Ali bin Abi Thalib (Radhiyallahu 'anhu), sepupu Nabi Muhammad (Shalallahu 'alaihi wasallam) dan Khalifah Islam ke-4, tokoh yang diklaim sebagai "imam maksum" dalam dogma keagamaan Syi'ah.

Bahrain menuduh kelompok militan dibentuk oleh Iran, negara teokrasi Syi'ah di dunia. Iran disebut-sebut telah mendukung militan Syi'ah untuk menggulingkan pemerintah Muslim Sunni. Tuduhan ini disangkal oleh Republik Syi'ah.

Menurut jaksa penyelidik, secara total ada 138 tersangka yang kasusnya diserahkan kepada pengadilan dengan berbagai dakwaan, seperti "antek asing" (maksudnya adalah Iran), serangan kepada aparat dan kepemilikan senjata ilegal.

Terdapat 86 tersangka yang ditahan, sementara sisanya masih berada di Irak atau Iran. Sebuah pengadilan pidana akan mulai menggelar kasus isi pada tanggal 23 Agustus mendatang.

Ketegangan kembali meningkat di Bahrain menyusul langkah-langkah keamanan oleh pemerintah terhadap kekuatan Syi'ah negeri itu, yang dinilai sangat keras.

Diantaranya pembubaran kelompok oposisi Syi'ah terkuat, al-Wefaq, dan penangkapan aktivis HAM Nabil Rajab yang mengkritik pemerintah.

Bahrain juga mencabut kewarganegaraan seorang pemimpin spiritual Syi'ah terkemuka, Ayatollah Isa Qassim, karena dianggap menyemai kebencian sektarian di sana.

Ia juga dituduh telah melakukan pengumpulan dana tanpa izin (penarikan Khumus dari kaum awam Syi'ah) dan pencucian uang.

Isa Qassim membantah tuduhan tersebut. Proses pengadilannya sendiri akan dimulai pada hari Rabu ini. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.