FH alias EM, seorang pengikut ISIS yang pernah ditangkap polisi (foto),
Peneliti radikalisme UGM Najib Azca mengatakan bahwa meski serangan bom bunuh diri di Mapolresta Solo pada Selasa (05/07) menjadi cara pendukung ISIS membuktikan eksistensi mereka di Indonesia atau Asia Tenggara, tetapi sebenarnya aksi ini malah menunjukkan kekuatan pendukung ISIS di Indonesia yang masih lemah.

"Di Irak dan Suriah, dari 125-an teritori yang mereka (ISIS) kuasai sekarang tinggal 55, jadi merosot. Di situasi lemah inilah saya kira mereka mencoba memperluas jejaringnya di berbagai daerah, termasuk apa yang terjadi di Thamrin berapa waktu lalu. Yang menarik dari dua operasi yang mereka lakukan di Indonesia ini, amatiran", kata Najib seperti dilansir BBC.

Serangan bom bunuh diri yang terjadi di Solo, menurut Najib, justru membuktikan kelemahan aksi para pendukung ISIS di Indonesia.

"Buktinya tidak ada orkestrasi yang besar, kalau mereka kuat, bisa sekian belas orang melakukan aksi atau pemboman yang lebih masif", tambah Najib.

Aksi bom bunuh diri di Solo terjadi setelah serangkaian bom bunuh diri lainnya, seperti di Madinah, Baghdad, Turki, dan serangan di Dhaka, serta ledakan bom di sebuah bar di Malaysia, yang disebut sebagai serangan pertama ISIS di negara tersebut.

Najib membandingkan aksi bom bunuh diri di Solo yang skala destruktifnya sangat kecil jika dibandingkan dengan kejadian di Baghdad, Turki, atau dengan aksi terorisme yang dilancarkan oleh jaringan kelompok Imam Samudra di Indonesia. (BBC Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.