SBY (foto),

Melalui akun Twitternya, Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, atau mantan presiden RI ke-6, mengungkapkan kritikannya terhadap keberadaan negara adidaya Amerika Serikat (AS) dan perkembangan politik di sana.

"Dari Seoul saya ikuti tayangan Konvensi Nasional Partai Republik yang calonkan Donald Trump sebagai Presiden AS pengganti Obama. Dunia sedang melihat apa yang sekarang terjadi di Amerika, bukan hanya gaduhnya politik menjelang Pilpres 2016, tetapi juga hal-hal lain. Negara adidaya yang sering dianggap sebagai 'champion of democracy' dan 'role model' ini menurut saya sedang menghadapi ujian sejarah", ujar SBY.

Menurut SBY, AS yang selama ini menempatkan diri sebagai "polisi dunia" karena memiliki militer terkuat dan menggelarnya dimana-mana untuk mengintervensi negara lain, ternyata harus menerima kenyataan pahit bahwa tanah airnya sendiri tidak aman.

Berbagai insiden penembakan terus terjadi di AS dengan jumlah korban tak sedikit. Bahkan polisi pun menjadi sasaran penembakan. 

Ia juga menyoroti para aktivis HAM AS yang paling kritis terhadap negara lain, meski di dalam negerinya sendiri berbagai kasus rasial kerap terjadi.

"Negara yang aktivis HAM-nya paling kritis dan  sering 'mengadili' negara lain, ternyata konflik rasial kembali marak dan terjadi di beberapa kota", katanya.

SBY menilai. tren yang ada menunjukkan bahwa masyarakat AS makin nasionalistik, "sensitif" terhadap negara lain ditambah Islamophobia yang makin menguat.

Hal ini terbukti dari retorika diskriminatif capres partai Republik Donald Trump yang akan larang Muslim masuk AS, ditambah rencana akan bangun tembok sepanjang AS dengan Meksiko, ternyata malah mendapat dukungan yang kuat.

"Saatnya Amerika lakukan introspeksi dan berbenah diri, karena kita hampir tak percaya semua itu terjadi di negara yang berperadaban maju", kritik SBY.

Ketua umum partai Demokrat Indonesia ini berpendapat bahwa apa yang terjadi di AS akan berpengaruh ke seluruh dunia, termasuk pilpres akhir tahun ini.

"Amerika klaim dirinya sebagai 'world leader' dan selalu libatkan diri dalam urusan negara lain. Juga sering mengekspor demokrasi, HAM dan rule of law. Jika masalah domestik tak dibenahi dan tak berikan contoh dalam demokrasi, HAM dan rule of law, ia (AS) kehilangan legitimasi untuk 'ajari' bangsa lain", tulis SBY.

"Sekalipun ancaman Trump untuk larang Muslim masuk AS itu baru retorika politik, tetapi telah memunculkan ketegangan dan masalah baru", tulisnya.

Yang mana tiap dinamika politik pilpres AS, dengan berbagai retorika dan debat tersebut, menyebar ke seluruh dunia, diketahui oleh banyak orang di berbagai negara, siang-malam.

"Untuk Indonesia, kita tentu bersikap netral dalam pilpres di AS. Namun secara moral kita bisa ingatkan agar para politisi AS lebih berhati-hati. Mengingat pengaruh dan peran sentralnya, AS harus aktif kurangi persoalan dunia. Jika kita diminta pahami AS, AS juga harus pahami yang lain", lanjutnya.

Mantan presiden SBY juga meminta bangsa Indonesia jangan terpukau dengan negara lain. Menurutnya Indonesia bahkan bisa lebih baik dengan melakukan pembenahan untuk memperbaiki diri sendiri.

"Bagi Indonesia, janganlah kita serba silau dengan negara lain. Kita bisa lebih baik. Asalkan kita terus berbenah dan sempurnakan diri", pungkasnya. (twitter/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.