Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar (Detik foto),
Polri angkat bicara soal adanya pihak yang menganggap teroris Santoso alias Abu Wardah sebagai pahlawan. Karena itu, Polri kembali menegaskan bahwa Santoso adalah pelanggar hukum (kriminal).

"Polisi melihatnya (Santoso) seperti pelaku pelanggar hukum", kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (25/7/2016), seperti dilansir Detik.

"Jadi, pelaku yang melakukan pelanggaran hukum di negara kita. Itu yang dilihat oleh polisi adalah seperti itu. Kalau pendapat-pendapat lain ya kita enggak tahu ya", sambungnya.

Boy menuturkan, Tim Satgas Operasi Tinombala terus memburu 18 orang anggota Santoso yang tersisa dan bersembunyi di hutan pegunungan di Poso, Sulawesi Tengah. Selain itu, jaringan kelompok teroris lainnya yang terkait dengan kelompok Santoso juga diupayakan untuk dilumpuhkan.

"Perlu penguatan jejaring kerja aparatur negara bersama masyarakat. Jadi agar penyebarluasannya bisa ditepis, dieliminir, maka tentu harus adanya suatu jejaring kerja yang kuat antara unsur masyarakat dan alat negara", ujarnya.

Boy mengatakan, memutus penyebarluasan paham terorisme tidak hanya menjadi tugas polisi. Masyarakat menurutnya juga bisa berperan aktif untuk menangkal masuknya paham tersebut.

"Misalkan dari tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, tokoh pemuda", lanjut Boy.

"Jadi mereka bersatu padu menangkal terorisme, menangkal paham paham radikal, menangkal segala paham-paham yang berkembang yang dianggap benar dalam perjuangan kelompok teror tersebut", imbuhnya.

Kasus perburuan Santoso dimulai sejak kelompoknya melakukan perampokan bank BCA Palu pada bulan Mei 2011 lalu.

Berondongan peluru 3 orang kelompok Santoso saat menyerbu bank membunuh dua anggota polisi yang bertugas di sana ketika itu. Briptu Januar Yudistira dan Andi Irbar Prawiro meninggal pada usia 21 tahun.

Perampokan berdarah ini, selain menggegerkan tanah air, juga menjadi tanda dimulainya "genderang perang" baru antara aparat dan komplotan bersenjata pimpinan Santoso tersebut.

Uniknya, sebelum kasus 2011, Santoso sebenarnya pernah berada dalam "genggaman" polri dalam kasus perampokan mobil box dengan alasan "rampasan perang" (fa'i).

Kapolri saat ini, Jenderal Pol. Tito Karnavian sempat memeriksa Santoso pada 2005 ketika ia menjadi kepala Densus 88.

“Dari karakter sendiri, sebetulnya dari pemeriksaan kami pada 2005, saat dia ditangkap, dia sebetulnya bukan ideolog, bukan ahli strategi yang baik”, kata Tito kepada Liputan6, April lalu.

Dalam perjalanannya, Santoso membangun basis di pegunungan dan hutan-hutan Poso, dengan istilah "Mujahidin Indonesia Timur" (MIT). Bahkan kelompok itu menyatakan baiat kepada ISIS untuk meraih dukungan lebih besar.

Sebelum kasus-kasus kriminal dan terorisme tersebut, Santoso adalah salah satu pemain dalam perang SARA melawan kelompok milisi Kristen.

Secara personal ia dikenal sebagai pribadi yang santun dan hangat oleh bekas rekannya dalam konflik agama di Poso.

Menurut para pendukungnya, Santoso yang tewas di tangan TNI awal pekan lalu, diyakini telah "mati syahid", dengan berbagai tanda yang mereka klaim. (Detik/Liputan6/Republika)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.