Gulen (foto),
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan bahwa hubungan Turki dengan Washington akan terpengaruh jika Amerika Serikat tidak mengekstradisi Fathullah Gulen, tokoh agama yang dituding mendalangi kudeta militer Turki yang gagal.

Cavusoglu meluncurkan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan media Haberturk TV pada Senin (25/7).

Dalam kesempatan itu, pemerintah Turki kembali menegaskan bahwa Gulen, yang tinggal dalam pengasingan di Pennsylvania, AS sejak 1999, bertanggung jawab atas upaya kudeta pada 15 Juli yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah.

Kantor berita Turki, seperti dikutip BBC mengabarkan, sejauh ini sudah lima wartawan yang ditahan untuk diinterogasi. Aksi ini menyusul penutupan sejumlah media beberapa hari pasca kudeta.

Sementara itu, Maskapai Turkish Airlines memecat 211 karyawannya yang diduga mendukung kudeta. Pemecatan ini adalah bagian dari "pembersihan" institusi di Turki dari paham pemberontakan.

Seperti diberitakan Reuters yang mengutip koran Sabah, pemecatan dilakukan pada Minggu (24/7) setelah pihak Turkish Airlines mengidentifikasi para karyawan yang memiliki kaitan dengan Fethullah Gulen, tokoh agama yang dituding dalang kudeta pada 15 Juli lalu.

Sebelumnya, pihak berwenang setempat juga telah menahan ribuan orang dengan latar belakang profesi yang beragam, mulai dari tentara, polisi, hakim hingga pejabat sipil.

Hal ini sesuai dengan janji Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang akan membersihkan seluruh lembaga negara dari "virus" yang menyebabkan pemberontakan.

Pemerintah Turki, sebelumnya menuduh ulama Fethullah Gulen sebagai dalang di balik kudeta militer beberapa pekan lalu. Otoritas terkait juga membuka opsi untuk memberlakukan kembali hukuman mati bagi para penghianat negara.

Menganggapi tuduhan tersebut, Gulen dari kediamannya di Amerika Serikat, membantah keras terlibat dalam aksi kudeta tersebut.

Orang-orang yang ditangkap Turki terkait kudeta dikenal sebagai pengikut Gulen atau menganggapnya sebagai pemimpin spiritual.

Jaringan pengikut Gulen disebut-sebut telah menjadi miniatur negara dalam negara Turki.

Sementara kabar tentang rencana pembelakuan hukuman mati bagi pelaku kudeta mendapat kritikan Uni Eropa, dimana Turki tengah berupaya memperoleh keanggotaan (CNN Indonesia/Anadolu Agency)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.