Relawan pertahanan sipil mengamankan bom cluster yang dijatuhkan dari pesawat (foto),
Kelompok pemantau HAM, Human Rights Watch, melaporkan bahwa serangan udara secara luas ke wilayah oposisi oleh militer rezim Suriah, yang didukung Rusia, telah menggunakan jenis bom cluster yang terlarang.

Penggunaan bom jenis ini dilarang oleh lebih dari 100 negara karena sifatnya yang dapat menghancurkan siapa saja, baik objek yang ditargetkan maupun warga sipil. Dimana sebarannya tak terkontrol.

HRW menyatakan pihaknya telah mendokumentasikan 47 serangan militer rezim Suriah yang menggunakan bom cluster.

Serangan itu menewaskan atau melukai puluhan warga sipil di wilayah yang dikuasai oposisi hanya dalam dua bulan terakhir.

Bom cluster merupakan wadah besar yang memuat banyak bom kecil yang meledak/pecah di udara dan menyebar untuk menghancurkan apapun yang mengenainya tanpa pandang bulu, termasuk warga sipil.

Penggunaan bom cluster biasanya dilakukan merusak jalan atau menghancurkan area luas yang ditanami ranjau.

Sedangkan jika bom kecil itu banyak yang tidak meledak, itu juga akan menjadi jebakan baru berbahaya bagi siapa saja di bawah. Terlebih di kawasan padat penduduk.

"Sejak Rusia dan Suriah kembali memperbarui operasi udara bersamanya, kami mendapati penggunaan bom cluster tanpa henti. Pemerintah Rusia harus segera memastikan jika pasukannya maupun pasukan Suriah tidak menyebarkan bom yang menghancurkan tanpa pandang bulu ini", ujar Ole Solvang, wakil direktur HRW, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (28/7).

Tahun lalu, Rusia membantah menggunakan bom cluster di Suriah. Namun, bukti yang terus ditemukan menunjukkan bahwa militer rezim Assad menyimpan bom itu.

Sehingga pasukan Rusia diduga ikut serta menggunakan bom tersebut, atau berpartisipasi dan mengetahui serangan yang menggunakan bom terlarang itu.

Belum ada tanggapan lebih lanjut dari pemerintah Rusia terkait laporan terbaru HRW.

Menurut laporan itu, bom cluster digunakan dalam serangan di barat laut provinsi Idlib pada tanggal 11 Juli lalu dan membunuh sedikitnya 10 orang.

Foto yang diambil dari dekat lokasi pengeboman menunjukkan bom tersebut dijatuhkan oleh jet tempur Su-34 yang hanya dimiliki oleh Rusia sendiri.

Sejumlah foto yang diambil sepekan kemudian dari serangan lain di dekat al-Tanf, wilayah selatan Suriah, menunjukkan sisa-sisa bom cluster, termasuk sejumlah bom kecil yang belum meledak.

Kelompok oposisi dan Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh jet Rusia.

Rusia tidak menandatangani konvensi PBB tahun 2008 yang melarang penggunaan bom cluster karena bom ini menghancurkan tanpa pandang bulu dan ancaman bagi warga sipil.

Sejak pertengahan 2012, pasukan rezim Assad telah menggunakan bom cluster yang dijatuhkan dari udara atau diluncurkan dari darat, menurut laporan HRW. (Reuters/CNN Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.