Seorang anak 12 tahun tewas dipenggal (foto),
Kelompok oposisi Suriah Nuruddin Zenki menyatakan tengah menyelidiki aksi pemenggalan kepala seorang anak di Aleppo yang videonya beredar di internet.

Dilaporkan Reuters pada Rabu (21/7), rekaman video itu memperlihatkan seorang laki-laki memenggal kepala seorang anak laki-laki menggunakan sebilah pisau di atas sebuah mobil bak terbuka.

Kesadisan dalam video semacam ini jarang dilakukan kelompok oposisi Suriah dan lebih identik dengan militan ISIS melalui berbagai video penyembelihannya.

Sebelum aksi pemenggalan, anak tersebut dipermainkan oleh para pelaku. Mereka menyebutnya berasal dari salah satu grup milisi kecil Palestina yang ikut bertempur di Aleppo dan mendukung rezim Assad.

"Ini adalah tawanan dari Liwa al-Quds. Mereka kini tidak memiliki pasukan lagi sehingga menggunakan anak-anak", kata salah seorang pelaku dalam video itu.

"Inilah Anjingmu, Basyar, bocah dari Liwa al-Quds", kata laki-laki lainnya.

Kelompok pemantau SOHR sebelumnya telah mengidentifikasi bahwa para pelaku dalam video pemenggalan anak tersebut berasal dari kelompok Nuruddin Zenki.

Merupakan salah satu kelompok pemberontak yang disebut-sebut menerima dukungan militer AS dan negara sponsor revolusi Suriah lainnya. Dukungan militer kepada kelompok ini disalurkan dari Turki, termasuk rudal TOW buatan AS.

Departemen Luar Negeri AS pada Selasa (20/7) menyatakan bahwa pihaknya tengah menyelidiki insiden itu. Pada Rabu, seorang pejabat Deplu AS tidak secara terbuka menyebut kelompok oposisi Suriah tersebut telah menerima dukungan AS.

"Kami secara rutin mengawasi kelompok yang bekerja sama maupun menerima dukungan kami, seperti yang anda ketahui, dan catatan HAM mereka harus jelas olehnya", kata pejabat Deplu AS, yang menolak untuk dipublikasikan namanya.

Ia mengecam pemenggalan anak-anak itu dan berharap Nuruddin Zenki yang telah berjanji untuk mengusut kasus ini bisa melakukannya secara tuntas dan transparan.

Dalam pernyataannya, Harakah Nuruddin Zenki sendiri mengecam insiden pemenggalan yang disebut sebagai "pelanggaran HAM yang dipamerkan melalui media sosial".

Kelompok oposisi ini menyebut bahwa pemenggalan sama sekali tidak mewakili kebijakan atau praktik yang dibenarkan kelompok tersebut.

Nuruddin Zenki juga menyatakan telah menahan sejumlah individu yang terlibat dalam aksi sadis tersebut, dan membentuk sebuah komite penyelidikan independen.

"Semua pelaku yang melakukan pelanggaran tersebut telah ditahan dan diserahkan pada komite penyelidikan sesuai standar hukum yang tepat", bunyi pernyataan itu.

Sementara itu, grup milisi pro-Assad, Liwa al-Quds, membantah bocah berusia 12 tahun yang disembelih adalah salah satu anggota milisi mereka.

Kelompok ini mengklaim anak tersebut berasal dari "keluarga miskin yang tinggal di daerah Kamp Handarat" di sebelah timur laut Aleppo, yang dikontrol oposisi.

Insiden ini digunakan oleh pihak rezim Suriah untuk menyurati PBB dan mendesak adanya sanksi bagi negara lain yang mendukung kelompok oposisi.

Meskipun demikian, di hari yang sama dengan beredarnya video pemenggalan itu, pesawat tempur rezim Assad dan sekutunya melakukan rangkaian serangan udara ke wilayah barat Aleppo, tepatnya di kota Atarib. Membunuh 21 warga sipil, termasuk 6 anak-anak.

Pihak-pihak yang terlibat dalam perang Suriah dilaporkan memiliki berbagai catatan pelanggaran terhadap hak anak. Rezim Assad memiliki catatan paling buruk terkait jumlah pembunuhan anak di bawah umur.

Menurut SNHR, Basyar al-Assad bertanggung jawab langsung atas kematian 19 ribu anak di bawah umur sejak tahun 2011. Mereka terbunuh oleh serangan udara, bom Birmil, penembakan, penyiksaan dan di fasilitas penahanan rezim. (Reuters/CNN Indonesia/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.