Aneka minuman haram (menurut Islam) berjaya di wilayah Assad (foto),
Sebagai kawasan kuno yang mengakar ditambah dengan berbagai jenis pasar, kota Damaskus sejak lama dipandang menjadi sebuah warisan penting sejarah masa lalu bagi zaman ini.

Namun, perlahan-lahan kota tua Damaskus dinilai mulai kehilangan daya tarik terpentingnya, di bawah kebijakan pemerintahan dinasti keluarga Assad.

Kebjakan Assad membukakan jalan bagi para sekutunya, investor kaya dan para pemimpin intelijen, untuk mengutak-atik bagian kuno kota itu. Termasuk dua bangunan berarsitektur khas Damaskus serta peninggalan bernilai arkeologi yang berumur ratusan tahun.

Tempat tersebut telah disulap sangat berbeda jauh, dari sesuatu yang bernilai sejarah dan warisan kemanusiaan, menjadi pusat hiburan, seperti klub malam dan tempat pelacuran.

Menurut aktivis media Fadi Abdul-Wahid, perubahan di kawasan bersejarah Damaskus dilakukan oleh rezim dan pendukungnya, terutama para pengusaha dan pejabat tinggi militer.

"Ibukota Damaskus dikenal sebagai kawasan kuno yang memiliki gaya arsitektur khas. Tempat-tempat ini telah menjadi tujuan penting bagi para wisatawan dari seluruh dunia", ujarnya.

"Namun, orang-orang yang kami temui sekarang (di kawasan bersejarah) adalah para pemabuk dan pecandu (narkoba), atau pengunjung klub malam. Dimana mereka yang memiliki hubungan dengan rezim (Assad) sengaja mempromosikan prostitusi di sana", keluh Fadi mengenai kondisi kota bersejarah Damaskus saat ini.

Ia juga menambahkan bahwa puluhan restoran yang dahulu ada di kawasan Bab Tuma, al-Amara, al-Qanawat dan lain-lain, telah berubah menjadi bar atau klub malam yang menjual bermacam-macam minuman beralkohol kepada para pelanggan setiap malam.

Bahkan restoran cepat saji sedang diubah menjadi tempat hiburan malam, dengan semua jenis praktik tidak etis yang dilakukan di sana (sarang maksiat).

Kehidupan malam Damaskus di bawah rezim Ba'ats-Alawite Syi'ah
Hal serupa dilaporkan oleh aktivis media lain, Muhammad al-Syami, yang merupakan warga di kawasan al-Amara.

"Kawasan kota tua Damaskus, yang telah menjadi lokasi berbagai klub malam, adalah saksi bisu tembakan-tembakan senjata api pada dini hari, (yang terjadi) hampir setiap hari, dari para pejabat intelijen mabuk untuk mengekspresikan rasa lepas dirinya", ungkap al-Syami.

Tema tentang kota tua Damaskus yang selama 14 abad menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam, namun kini menjadi sarang maksiat, mulai mengemuka.

Bulan April lalu, kantor berita Reuters juga mengungkap "mulai pulihnya" kehidupan malam di kota Damaskus. Dimana sejenak, orang-orang "melupakan perang" dengan rokok, alkohol serta musik.

"Kota ini secara bertahap berubah dari kondisi konservatif, menjadi pusat berbagai klub malam, kasino, dan rumah bordil, dijaga oleh militan dari Basij dan Garda Revolusi Iran (pasukan Syi'ah asing)", lanjutnya.

Al-Syami menambahkan, para pelanggan bar dan klub malam tersebut adalah anak-anak pejabat militer atau intelijen serta para "ekstremis agama" seperti Hezbollah Lebanon dan milisi Syi'ah.

Kelompok sosial kota yang berhubungan dengan militer memiliki kelebihan uang untuk dipakai bersenang-senang di tempat hiburan malam.

Berbeda dengan pegawai negeri biasa pemerintahan Assad atau warga sipil Damaskus yang tidak memiliki hubungan dengan akses militer, mereka justru kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, kritik para aktivis itu. (Baladi-news)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.