Presiden sah Turki (foto),
Presiden Tayyip Erdogan mengecam negara-negara Barat karena tidak menunjukkan solidaritas pada Turki yang diguncang kudeta gagal berdarah baru-baru ini.

Pada hari Jum'at, Erdogan menyebut siapa saja yang lebih mengkhawatirkan nasib para pendukung kudeta daripada demokrasi Turki, tidak bisa menjadi teman bagi Ankara.

Ia juga menolak kritikan Barat atas kebijakan pembersihan di berbagai lembaga negara Turki dari para pendukung kudeta, dimana lebih dari 60.000 orang ditahan, dipecat atau dibekukan karena dicurigai terkait dengan upaya kudeta.

"Sikap banyak negara dan pejabat (Barat) terhadap upaya kudeta di Turki itu memalukan berdasarkan demokrasi", kata Erdogan di istana presiden Ankara, seperti dikutip Reuters.

"Setiap negara dan pemimpinnya yang tidak peduli pada kehidupan rakyat Turki dan demokrasi kami, dibanding besarnya kekhawatiran mereka pada nasib pelaku kudeta, (mereka) bukanlah teman kami", ujar Erdogan.

Barat mengecam upaya kudeta militer yang menurut pemerintah Turki telah menewaskan ratusan warga sipil dan melukai ribuan lainnya.

Tapi Barat kemudian menentang tindakan pemerintah setelahnya, yang dinilai "sangat keras" serta adanya "pelanggaran HAM".

Laporan kelompok HAM Barat, seperti Amnesty International, telah menuduh Turki melakukan penyiksaan dan kekerasan pada para tahanan (pelaku kudeta).

Sementara itu Uni Eropa langsung menyoroti kabar pemberlakuan kembali hukuman mati kepada para pelaku.

Baru-baru ini, koalisi pimpinan AS menilai bahwa proses pembersihan militer Turki telah "menghambat operasi militer untuk melawan ISIS".

Pada hari Kamis (28/7), ratusan orang menggelar aksi unjuk rasa damai di dekat pangkalan militer Incirlik, yang digunakan koalisi internasional.

Mereka meneriakkan "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar) dan "Amerika keparat". Para pengunjuk rasa juga membakar bendera AS. Seperti dilaporkan surat kabar pro pemerintah, Yeni Safak.

Dimana sikap anti AS itu muncul karena Obama dianggap berbelit-belit atas tuntutan mengekstradisi Fathullah Gulen ke Turki.

Pembersihan menargetkan pendukung Gulen di dalam lembaga negara Turki, ia dituduh mendalangi kudeta gagal 15 Juli melalui jaringan pengikutnya yang disebut "miniatur negara dalam negara".

Sekitar 66.000 orang telah ditindak karena dianggap terlibat kudeta atau merupakan pendukung Gulen.

Para kritikus Erdogan menuduh langkah-langkah penindakan pemerintah ditujukan "kepada yang bertentangan dengannya".

Erdogan mengkritik perlemen Eropa dan Uni Eropa karena dianggap gagal menunjukkan belasungkawa, ia juga menyebut kritikan mereka pada Turki sebagai memalukan. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.