Foto perusakan masjid yang beredar di media sosial (foto),
Penyidik ​​hak asasi manusia PBB pada hari Jumat mendesak pemerintah Myanmar yang dipimpin oleh pemenang Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, agar menyelidiki serangan massa Buddha terhadap sebuah masjid pekan lalu.

PBB juga meminta Myanmar untuk menindak tegas setiap kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Sekelompok orang dari sebuah desa di Myanmar pada Kamis (23/6) pekan lalu menghancurkan sebuah masjid dan menganiaya Abdul Syarif, seorang warga Muslim.

Masalah itu muncul akibat perselisihan pembangunan sebuah bangunan, yang ditolak seorang warga Buddha karena dianggap akan menjadi sekolah Islam. Ratusan massa Buddha kemudian datang merusak masjid, pemakaman dan bangunan di sekitarnya.


Serangan-serangan itu menjadi tantangan bagi rezim Suu Kyi dan partainya atas warisan konflik SARA yang terjadi selama puluhan tahun sejak masa junta militer.

Ketegangan berbau agama telah ditekan di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha oleh junta militer.

Namun, saat proses demokratisasi terjadi sejak 2011, berbagai kerusuhan dan kekerasan atas nama agama meletus di negeri itu, terutama dengan berkembangnya kelompok Buddha radikal dan nasionalis.

Yanghee Lee, peliput khusus PBB tentang HAM di Myanmar, menyatakan rasa keprihatinannya atas laporan yang menyebut bahwa pemerintah Myanmar tidak menyelidiki kasus perusakan masjid pekan lalu.

"Pemerintah seharusnya menunjukkan bahwa provokasi dan tindakan kekerasan pada etnis atau agama minoritas tidak bisa diterima di Myanmar", kata Lee pada akhir kunjungannya ke negara itu.

Ia juga menyoroti berbagai ungkapan kebencian, diskriminasi, rasa benci, kekerasan dan intoleransi agama.

"Sangat penting bagi pemerintah untuk mengambil tindakan, termasuk dengan melakukan penyelidikan menyeluruh dan menangkap para pelaku", katanya.

Komentar Lee nyaris bertepatan dengan terjadinya pembakaran sebuah masjid di Kachin pada Jum'at sore. Seperti diungkap oleh pihak kepolisian dan anggota partai Suu Kyi.

"Kami mencoba mengadakan dialog antara mereka agar menghindari terjadinya konflik yang serius, tapi tidak ada yang bisa menghentikan mereka (massa pembakar)", kata Tin Soe, anggota parlemen NDL, terkait pembakaran masjid.

Ia juga mengatakan bahwa massa menyerang polisi yang menjaga lokasi, serta menghentikan mobil pemadam kebakaran menuju ke masjid yang dibakar.

Polisi bahkan belum menangkap satu orang pun yang terlibat dalam serangan bar-bar tersebut.

"Kami akan mengambil tindakan atas kasus ini sesuai hukum (yang berlaku), namun kami tetap perlu mengikuti instruksi dari atas (pemerintah)", ujar pejabat kepolisian setempat, Kyaw Zaw Oo, kepada Reuters.

Menurut Phil Robertson dari Human Rights Watch, insiden-insiden ini adalah "alarm" bagi pemerintahan Suu Kyi.

Robertson mengatakan, "pemerintah harus memperjelas bahwa setiap ekstremis penghasut kekerasan atas nama agama akan dihukum secara maksimal sesuai aturan yang berlaku". (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.