Erdogan (foto),
Presiden Turki Tayyip Erdogan berjanji akan segera merestrukturisasi angkatan bersenjata sehingga percobaan kudeta militer seperti yang terjadi sepekan lalu tak akan terulang kembali.

Dalam wawancara pertamanya kepada Reuters setelah mengumumkan status darurat di Turki, Erdogan memaparkan bahwa terdapat kegagalan yang signifikan dalam jajaran petugas intelijen sehingga kudeta dapat terjadi.

Erdogan juga menyatakan restrukturisasi militer mutlak dilakukan agar angkatan bersenjata mengalami pembaruan.

"Sangat jelas bahwa ada kesenjangan yang signifikan dan kekurangan dalam intelijen kami, tidak ada gunanya mencoba menyembunyikannya atau menyangkalnya. Saya mengatakan kepada kepala intelijen nasional", kata Erdogan di istana kepresidenan di Ankara, Kamis (21/7).

Erdogan juga mengatakan bahwa upaya kudeta baru mungkin saja terjadi namun tidak akan mudah, dan menegaskan "akan lebih waspada".

Sementara pertemuan Dewan Tertinggi Militer (YAS), lembaga yang mengawasi kinerja angkatan bersenjata, akan diselenggarakan pada 1 Agustus mendatang dan berlangsung selama satu pekan. Pertemuan itu akan membahas restrukturisasi militer.

YAS akan diketuai oleh perdana menteri Turki, Binali Yildirim. Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Kepresidenan juga termasuk dalam dewan tersebut.

"Mereka semua bekerja sama untuk memutuskan apa yang mungkin perlu dilakukan, dan dalam waktu yang sangat singkat, struktur (militer) baru akan ditetapkan. Dengan struktur baru ini, saya yakin angkatan bersenjata akan mengalami pembaruan", kata Erdogan.

"Setelah semua yang telah terjadi, saya pikir mereka sekarang harus menarik pelajaran yang sangat penting. Ini adalah proses yang berkelanjutan, kami tidak akan pernah berhenti, kami akan terus sangat aktif, kami memiliki rencana", ujarnya.

Erdogan kini menjadi sosok yang paling dominan di panggung politik Turki sejak Mustafa Kemal Ataturk, pendiri republik modern. Erdogan menerima kemenangan beruntun, dengan lebih dari 10 kemenangan pemilu, dan memerangi mantan sekutunya selama beberapa tahun.

Pemerintah Turki menuduh Fethullah Gulen, tokoh spiritual Turki yang kini tinggal dalam pengasingan di Pennsylvania, Amerika Serikat, mendalangi percobaan kudeta pada Jum'at (15/7) yang berhasil digagalkan.

Lebih dari 60.000 orang ditangkap karena diduga pendukung kudeta, mulai dari jajaran tentara, polisi, hakim, pegawai negeri. Sejumlah guru dan akademisi diskors, ditahan atau diselidiki. (CNN Indonesia/Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.