Kerusakan pertempuran pemerintah Kabul vs oposisi Taliban (foto),
Pemerintah Afghanistan dilaporkan telah kehilangan kontrol sekitar 5 persen wilayah yang jatuh ke tangan Taliban sejak awal tahun ini, menurut laporan badan pemantau pemerintah AS atas Afghanistan.

Diterbitkan pada hari Jum'at oleh Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction (SIGAR), daerah yang berada di bawah "kendali atau kontrol" pemerintah menurun menjadi 65,6 persen pada akhir Mei, dari 70,5 persen akhir tahun lalu.
 
Data penguasaan wilayah itu diambil dari pasukan AS yang beroperasi di Afghanistan. Kabul kehilangan sebanyak 19 distrik dari sekitar 400 yang ada di negeri itu.

Komandan pasukan darat AS di Afghanistan, Jenderal John Nicholson, menyatakan sebagian besar wilayah yang dikuasai Taliban adalah kawasan pedesaan.

“Mereka yakin mereka akan berhasil merebut dan mempertahankannya, dan mereka gagal melakukannya”, kata Nicholson pada Kamis (29/7) dalam sambungan video dengan Pentagon.

Taliban yang kini berstatus sebagai kelompok pemberontak, menurut laporan itu, memegang sekitar 10 distrik tambahan.

Para pejabat Afghanistan mengatakan bahwa luas wilayah sebenarnya tidak bisa diukur secara pasti, karena perang melawan Taliban atau kelompok bersenjata lainnya masih berlangsung.

"Bukan hanya Taliban tetapi banyak kelompok-kelompok pemberontak di Afghanistan yang bertempur untuk merebut wilayah, dan kami bertempur untuk memukul mundur mereka, jadi kami tidak bisa mengukur seberapa banyak daerah yang berada dalam kendali Taliban atau kelompok-kelompok pemberontak lainnya", kata Jenderal Dawlat Waziri , juru bicara kementerian pertahanan Afghanistan, kepada Al-Jazeera pada hari Jum'at.

"Namun, kami bisa memastikan bahwa Taliban mungkin ada di sebagian besar wilayah pedesaan, bukan di kota-kota penting negara", lanjutnya.

Mengetahui "ancaman" Taliban, Obama akan mempertahankan sekitar 8.400 pasukan AS di Afghanistan hingga masa jabatannya berakhir, Januari 2017 nanti.

Lebih dari 15 tahun lalu, AS di bawah George Bush menyerang pemerintahan Islam Taliban di Afghanistan, dengan alasan menjadi "sponsor teroris" atau melindungi al-Qaeda dan Osama bin Laden.

AS dan sekutu kemudian mendirikan sebuah pemerintahan baru "yang demokratis".

Afghanistan merupakan negeri yang sangat kaya mineral, namun hingga kini masih diselimuti konflik antara pemerintah yang didukung AS, melawan kelompok pemberontak utama Taliban, yang kembali menguat pasca ditariknya militer asing secara besar-besaran pada 2014.

Upaya perundingan damai terakhir awal tahun ini gagal. Taliban mensyaratkan ditariknya pengaruh asing (kafir) dari negeri itu untuk rekonsiliasi nasional. (Al-Jazeera/CNN Indonesia/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.