John Kerry dan Sergei Lavrov (foto),
Amerika Serikat sedang memantau apakah rencana 'operasi kemanusiaan' Rusia di Suriah memiliki niat tulus atau hanya tipu muslihat.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry, pada hari Jum'at, mengatakan bahwa jika maksud Rusia itu terbukti sebagai suatu "tipu muslihat", maka hal ini bisa merusak kerja sama antara Moskow dan Washington.

Lebih dari 250.000 warga sipil terperangkap selama berminggu-minggu di kota Aleppo timur yang dikuasai oposisi.

Rusia dan rezim Assad menawarkan "jalur aman" bagi mereka yang ingin dari kota terkepung itu. Beberapa selebaran dan pengumuman disebar berisi ajakan agar para pejuang menyerah, serta warga sipil segera pergi dari kota.

Media propaganda Assad menuduh oposisi telah "menghalang-halangi" warga sipil dari meninggalkan wilayah Aleppo yang terkepung.

Namun kelompok oposisi membantahnya, dan balik menyatakan jika tawaran Assad dan Rusia itu adalah bentuk pengusiran untuk membersihkan kota dari penduduk aslinya. Dimana hal ini adalah bentuk kejahatan perang.

Pandangan serupa dinyatakan oleh para pejabat AS, yang menilai tujuan Assad dan Rusia adalah untuk mengurangi populasi kota itu agar lebih mudah diambil alih.

Merebut kembali seluruh Aleppo dipandang sebagai kemenangan terbesar bagi Assad dalam lima tahun pertempuran, sebuah titik balik paling signifikan sejak Moskow meluncurkan serangan udara untuk membantu Assad pada akhir September 2015.

Jika ini terjadi, maka akan memalukan bagi John Kerry dan AS, yang dalam beberapa waktu belakangan mengajak Rusia bekerja sama untuk menciptakan gencatan senjata dan rencana memerangi "kelompok teroris".

Ditanya tentang 'operasi kemanusiaan' Rusia, Kerry mengatakan bahwa Washington memang tidak yakin dengan niat Moskow.

"(operasi) Ini memiliki risiko, jika itu merupakan tipu muslihat, akan sepenuhnya merusak bentuk kerja sama (AS-Rusia)", jelas Kerry.

Kerry telah 2 kali melakukan kontak dengan Moskow dalam 24 jam untuk mencoba meminta penjelasan apa maksud sebenarnya Rusia. Semua hal harus diketahui secara lengkap untuk melihat berbagai kemungkinan.

Sementara pihak Gedung Putih juga menyuarakan keraguan serupa terkait operasi Rusia itu.

"Dengan catatan (track record) mereka sejauh ini, kami skeptis atasnya", kata juru bicara Gedung Putih, Eric Schultz, dalam sebuah jumpa pers.

Bencana kemanusiaan dilaporkan terjadi di Aleppo timur setelah satu-satu jalur suplai, jalan Castello, dipotong tentara Assad dan milisi Syi'ah.

Persediaan makanan makin menurun dan mulai dijatah, diperkirakan akan segera habis dalam beberapa waktu ke depan.

Secara pribadi, para pejabat AS khawatir jika rencana Rusia ternyata hanya kedok untuk menutupi maksud asli sekutunya, Basyar al-Assad. Yaitu untuk memisahkan para laki-laki dari populasi seluruh warga, lalu diklaim sebagai "teroris", sehingga mereka akan dipenjara atau dieksekusi.

"Seperti yang telah Assad dan ayahnya (Hafidz) lakukan berulang-ulang (penahanan massal), setidaknya sejak tahun 1982", kata seorang pejabat anonim menyampaikan hasil analisa pejabat Washington.

"Mengapa harus mengevakuasi sebuah kota yang akan anda kirimi bantuan kemanusiaan ke sana?", tanya seorang pejabat lain tentang kejanggalan rencana Rusia dan Assad.

Ghaith Yaqout al-Murjan, seorang aktivis di Aleppo timur, mengatakan bahwa warga sipil menghindari jalanan karena mereka masih tidak aman (dari serangan udara atau pertempuran).

"Ada orang yang ingin pergi karena mereka tidak bisa lagi bertahan dari serangan helikopter, jet, bom Birmil (oleh rezim). Oposisi tidak mencegah siapapun jika mereka ingin pergi", jelasnya.

Ia mempertanyakan, bagaimana mungkin warga sipil bisa berjalan beberapa kilometer (untuk meninggalkan kota) sementara pertempuran 2 sisi dan serangan terjadi, sehingga berisiko menjadi korban. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.