Ilustrasi hubungan Assad dan Putin (foto),
Rusia akan menyetujui turunnya Basyar al-Assad dari kantornya, tapi hal itu hanya terjadi jika pergantian pemimpin tidak memicu runtuhnya rezim Suriah yang merupakan sekutu Moskow.

Sampai persyaratan dipenuhi oleh kekuatan yang terlibat, untuk sementara Rusia akan terus melindungi kekuasaan Assad dari berbagai tekanan internasional.

Kengototan Rusia dipercaya bisa menghambat tercapainya solusi politik dalam perundingan damai yang didukung PBB.

"Rusia tidak akan meninggalkan Assad sampai dua tuntutannya tercapai", ujar Sir Tony Brenton, mantan duta besar Inggris untuk Rusia, kepada Reuters.

"Pertama, sampai mereka yakin (Assad) tidak akan diganti dengan semacam pengambil alihan oleh kelompok Islam, dan yang kedua sampai mendapatkan jaminan posisi mereka di Suriah, sebagai sekutu dan lokasi pangkalan militernya, secara berkelanjutan di masa depan", lanjutnya.

Moskow telah membantu Basyar al-Assad untuk memerangi para pejuang Islam Sunni sejak akhir September tahun lalu, berdalih untuk memerangi ISIS.

Sejauh ini tak ada tanda-tanda penarikan dukungan bagi rezim Assad. Meskipun dukungan Moskow terhadap rezim tersebut bukan tentang Assad, melainkan menjamin kepentingan Rusia sendiri di Suriah.

Walaupun bersama-sama Amerika Serikat (AS), Rusia menjadi broker utama perundingan politik beberapa waktu lalu, namun Moskow menegaskan kepada siapa saja bahwa langkah terhadap Suriah harus sesuai dengan keinginan mereka.

Kelompok Islam adalah ancaman?
Moskow mengatakan bahwa ribuan warga Rusia dan bekas Uni Soviet lainnya saat ini telah bergabung dengan ISIS, dan mereka harus dikalahkan.

Hal itu menjadi alasan campur tangan Rusia untuk "menyelamatkan Suriah dari teroris". Dimana rezim Assad adalah mitra dalam pertempuran itu.

Kenyataan di lapangan, militer Rusia lebih banyak menyerang wilayah-wilayah oposisi. Bahkan beberapa waktu lalu menuntut dewan keamanan PBB mem-black list Jaisyul Islam dan Ahrar Syam.

2 kekuatan terbesar dalah faksi Islamic Front atau Jabhah Islamiyah, bagian dari oposisi Suriah yang memerangi ISIS dan diakui berbagai negara.

Menurut Andrey Kortunov, direktur sebuah lembaga think tank yang dekat dengan Kementerian Luar Negeri Rusia, sebenarnya tidak ada banyak simpati untuk Assad dalam lingkup kebijakan luar negeri Moskow.

Hanya saja, Assad adalah bagian dari kepentingan Moskow untuk memenangkan perangnya. Sehingga jika Rusia mengorbankannya, justru Assad akan balik badan dan merugikan Moskow sendiri.

"Anda harus ingat sisi lain dari koin. Rusia menjadi (berposisi) penting karena memiliki hubungan dengan rezim Suriah, sehingga jika ia dikorbankan dalam hubungan, mungkin (rezim Assad) berhenti menjadi pemain (Rusia)", katanya.

Pengamat lain percaya bahwa dukungan Rusia pada Assad tidaklah mutlak. Dimana Kremlin mungkin saja akan mendepaknya jika syarat-syarat telah tepenuhi.

Akan tetapi, proses pengkodisian tercapainya syarat-syarat tersebut adalah sesuatu yang sangat sulit dan lama. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.