Kehancuran sebuah klinik di Aleppo (foto),
Pengeboman udara menghantam tiga rumah sakit di wilayah kota Aleppo yang dikuasai oposisi, termasuk sebuah pusat perawatan anak yang didukung oleh PBB.

Aktivis kemanusiaan dan pihak oposisi menyebutnya sebagai kekejaman terbaru selama pertempuran yang kembali melanda kota itu.

Kantor cabang Unicef di Timur Tengah dari Unicef, dalam sebuah pernyataannya menyatakan bahwa serangan terjadi dalam selang waktu tiga jam di rumah sakit al-Bayan dan al-Hakim, serta klinik Abdulhadi Fares.

Unicef ​​tidak merinci tentang jumlah korban, kerusakan atau siapa yang bertanggung jawab atasnya. Serangan itu menjadi kedua kalinya terhadap di rumah sakit al-Hakim yang didukungnya.

Sumber lain mengatakan bahwa setidaknya ada 10 warga sipil terbunuh oleh pemboman, termasuk anak-anak, juga banyak korban lainnya yng terluka.

Aktivis lokal menyalahkan serangan terlarang itu pada militer rezim Assad. Sebab oposisi tidak memiliki pesawat yang bisa digunakan untuk melakukan serangan udara tersebut.

"Pola penghancuran dalam peperangan Suriah tampaknya tidak memiliki ketepatan and pertimbangan. Hal ini harusnya telah mengganggu aturan moral dunia. Berapa lama kita akan membiarkan anak-anak Suriah menderita seperti ini?", kata direktur regional Unicef, Dr. Peter Salama, dalam sebuah pernyataan yang diposting di Twitter.

Kota Aleppo, sebuah pusat perekonomian Suriah, telah menjadi medan pertempuran sejak lima tahun lalu antara pasukan rezim Assad dan berbagai pejuang oposisi. Kota ini kini terbelah 2, dimana wilayah oposisi telah rusak parah.

Serangan ke rumah sakit terjadi sehari setelah klaim Assad untuk merebut kembali "setiap inci" dari wilayah musuh-musuhnya. Sikap sesumbar ini terjadi dengan dukungan militer Rusia terhadapnya.

Rumah sakit dan tenaga medis telah berulang kali menjadi sasaran dalam perang, sehingga melumpuhkan sistem pelayanan kesehatan masyarakat Suriah.
 
Menurut Physicians for Human Rights 95% petugas medis dan dokter yang terbunuh di Suriah, adalah akibat serangan militer Assad.

Bulan lalu, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang memperingatkan pihak-pihak dalam peperangan bahwa rumah sakit harus menjadi tempat yang dilindungi, bukan target, dimana yang melanggar harus bertanggung jawab.

Hanya ada 7 rumah sakit yang masih berfungsi di wilayah kota Aleppo timur yang dikuasai oposisi, melayani sekitar 350.000 orang.

Video yang diposting oleh aktivis oposisi, menunjukkan kebakaran hebat dan kepulan asap hitam setelah terjadi serangan udara pada hari Rabu.

"Itu hancur lebur, penuh berdebu, saya melihat api dan potongan tubuh... Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, apakah harus mengambil kamera dan merekamnya, atau harus menolong yang terluka? Saya lakukan pilihan kedua",  kata Yehya al-Rijo, seorang aktivis yang langsung menuju ke rumah sakit al-Bayan setelah terjadi pemboman.

Wilayah kota Aleppo timur yang dikuasai oposisi dihantam puluhan serangan udara dari rezim Assad dan Rusia pada awal Ramadhan ini, meskipun tengah terjadi gencatan senjata yang didukung internasional untuk mengurangi kekerasan.

Oposisi kemudian meresponnya dengan meluncurkan mortir dan roket buatan tangan ke kota Aleppo yang dikuasai rezim Assad. (New York Times/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.