Polisi paramiliter China di wilayah Xinjiang (foto),
Pejabat China membatasi ibadah puasa di wilayah Xinjiang yang merupakan tempat tinggal bagi sekitar 10 juta Muslim Uighur.

Partai Komunis negara itu selama bertahun-tahun telah melarang pegawai pemerintah dan anak-anak puasa di Xinjiang.

Ramadhan kali ini, PNS, mahasiswa dan anak-anak tidak diperkenankan untuk ikut berpuasa yang dimulai pada hari Senin kemarin. Restoran dan tempat makan juga diminta agar tetap buka.

Beijing menyalahkan "ekstrimisme" agama atas konflik, separatisme dan ketegangan yang masih melanda kawasan kaya sumber daya alam itu.

Sementara menurut kelompok HAM, pembatasan agama dan budaya terhadap Muslim Uighur (dan kelompok minoritas Muslim lainnya di daerah yang berbatasan Asia Tengah), justru terus menyemai ketegangan.

Pemerintah daerah di Xinjiang telah membuat pemberitahuan di situs mereka tentang pembatasan ibadah selama bulan Ramadhan.

"Anggota Partai, kader, PNS, mahasiswa dan anak di bawah umur tidak boleh berpuasa Ramadhan dan harus tidak ambil bagian dalam kegiatan keagamaan", isi pemberitahuan diposting di situs resmi kota Korla di pusat Xinjiang, sejak pekan lalu sebelum Ramadhan.

"Selama bulan Ramadhan, bisnis makanan dan minuman tidak boleh tutup", tambah pengumuman.

Mereka yang ambil bagian dalam aktivitas keagamaan itu akan diberhentikan dari posisinya.

Di daerah Shuimogou, ibukota wilayah Urumqi, sistus pemerintah pada Senin pekan lalu (30/5) menyerukan pencegahan siswa dan guru di semua sekolah dari memasuki masjid untuk kegiatan keagamaan selama bulan Ramadhan.

Di kota Altay utara, pejabat setempat sepakat untuk meningkatkan kontak dengan orang tua murid agar mencegah anaknya ikut puasa saat bulan Ramadhan.

China secara ketat mengontrol aktivitas keagamaan meskipun sering menyatakan jaminan bahwa warganya memiliki kebebasan berkeyakinan.

Kontrol ketat terhadap ibadah warga Uighur berbeda dengan kelompok etnis Muslim lainnya, Beijing beralasan wilayah itu rentan terhadap "separatisme" dan "ekstrimisme".

Pejabat partai Komunis atas di Xinjiang, Zhang Chunxian, berharap umat Islam di kawasan itu bisa menyambut Ramadhan tahun ini.

Dewan pemerintah daerah menyatakan bahwa kebebasan beragama di Xinjiang saat ini adalah tidak bisa dibandingkan dengan masa sebelumnya.

"Selama bulan Ramadhan, restoran Muslim bebas memutuskan apakah mereka ingin tetap membuka bisnisnya atau tidak. Tidak akan ada intervensi (pemerintah)", katanya.

"Pemerintah daerah memastikan bahwa semua kegiatan keagamaan selama bulan Ramadhan berjalan secara tertib", tambah Zhang.

Di tahun-tahun sebelumnya China lebih agresif melarang aktivitas keagamaan maupun budaya Muslim Uighur.

Dilxat Raxit, dari World Uyghur Congress di pengasingan, mengutuk pembatasan yang dilakukan pemerintah China di kawasan Muslim.

"China mengira bahwa iman dan Islam Uighur bisa mengancam supremasi kekuasaan Beijing", ujarnya.
 (AFP/Dailymail)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.