Gambar bom pembakar di Aleppo oleh pesawat Rusia (foto),
PBB menyatakan keprihatinannya atas laporan penggunaan bom pembakar yang digunakan di Suriah, dimana menurut oposisi Suriah dan berbagai aktivis, serangan dilakukan oleh pesawat tempur Rusia.

Namun organisasi antar negara itu mengatakan tidak dalam kapasitas untuk memverifikasi laporan tersebut.

Oposisi Suriah dari Komite Tinggi Negosiasi, pada hari Kamis (23/6), meminta Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon agar memulai penyelidikan terkait laporan penggunaan bom pembakar dan bom cluster di Suriah, yang dituduhkan pada Moskow.

"Kami prihatin oleh laporan (adanya) penggunaan bom pembakar di Aleppo, Suriah. (namun) Kami tidak berada dalam posisi untuk (dapat) memeriksa laporan-laporan tersebut", kata juru bicara PBB, Farhan Haq, seperti dikutip Reuters.

"Kami berharap bahwa semua faksi dan negara yang terlibat dalam konflik (Suriah) bisa menahan diri dari penggunaan hal ini (senjata terlarang)", lanjutnya.

Sementara utusan Rusia untuk PBB tidak tersedia mengomentari laporan yang menuduh Rusia menggunakan senjata-senjata terlarang di wilayah sipil.

Bom pembakar menggunakan zat-zat tertentu yang dirancang untuk membakar suatu target benda maupun makhluk hidup, termasuk manusia.

Sedangkan bom cluster adalah sebuah wadah yang pecah di udara lalu menyebarkan banyak bom kecil ke wilayah luas tanpa target yang jelas.

Penggunaan bom pembakar di daerah warga sipil dilarang keras menurut konvensi tentang 'Senjata Konvensional'. Bom cluster juga dilarang di bawah konvensi tentang 'Munisi Cluster'.

Sepanjang pekan ini, berbagai foto dan video dari provinsi Aleppo menunjukkan serangan bom cluster yang diduga kuat mengandung zat Fosfor, juga bom pembakar (thermobaric).

Sebuah video media 'Russia Today' ketika meliput pangkalan militer Rusia di Suriah, mengungkapkan adanya jenis bom terlarang yang terpasang pada pesawat tempur.

Rusia mengerahkan pesawat tempurnya ke Suriah sejak akhir September 2015 untuk mendukung kekuasaan Basyar al-Assad melawan kelompok oposisi yang ingin menggulingkannya.

Perang Suriah dipicu oleh kekerasan dan pembunuhan massal militer rezim Assad terhadap para demonstran yang menuntut berakhirnya kekuasaan keluarga Assad dan partai Ba'ats. Tuntutan dimotori oleh kaum Muslim Sunni, sementara Assad berasal dari suku minoritas Alawite (Syi'ah Nushairiyah). (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.