Su-30 andalan Rusia (foto),
Rusia diprediksi akan segera mengaktifkan lagi aksi militernya di Suriah untuk membantu rezim Basyar al-Assad, setelah sempat mengendur pasca pengumuman penarikan parsial pada Maret lalu.

Berbeda dengan intervensi sebelumnya sejak 30 Sepetember 2015, saat Moskow masih meraba-raba apa yang harus dilakukan, dengan berdalih menyerang ISIS namun juga menyasar oposisi moderat.

Operasi Rusia berikutnya diperkirakan akan fokus pada kelompok paling rentan diserang dalam oposisi Suriah atau sekutunya.

Kelompok tersebut adalah Jabhah Nushrah, yang secara tebuka menyatakan berafiliasi dengan al-Qaeda. Jabhah Nushrah menurut kesepakatan internasional adalah "teroris" dan tidak diakui sebagai oposisi. (Lihat: Perang Suriah dalam kacamata hukum internasional)

Posisi tersebut sangat lemah di atas meja, karena tidak ada satupun celah pembelaan politik atau hukum internasional yang bisa siapa saja lakukan pada Nushrah.

Di lapangan, Jabhah Nushrah adalah bagian tak terpisahkan dari revolusi Suriah menentang Assad. Cabang al-Qaeda yang dianggap paling mendekati "moderat" ini adalah salah satu kekuatan tempur andalan oposisi.

Mereka adalah para Jihadis paling militan, berani mati dan meledakkan diri di tengan kerumunan musuh, menjadi aktor penting kemenangan di setiap operasi gabungan.

Lebih-lebih saat gencatan senjata, oposisi justru bisa memanfaatkan tangan Jabhah Nushrah untuk terus memukul Assad, Iran dan milisi Syi'ah asing. Al-Qaeda memang tak kenal cara "politik" dan "perdamaian", karena sejak awal sudah dianggap teroris.

Target Realistis
Menghancurkan Jabhah Nushrah adalah target yang realistis bagi Assad dan Rusia. Dengan berfokus menyerang bagian musuh paling rentan diserang (karena berstatus teroris), jika sukses, maka otomatis akan melemahkan salah satu kekuatan andalan koalisi anti Assad.

Hal itu juga menjadi pembenaran lebih baik untuk menyerang kelompok anti Assad, dibandingkan ketika Rusia beralasan "menyerang ISIS" di awal intervensi militer mereka.

Berbeda dengan "beralasan ISIS", "beralasan Jabhah Nushrah" membuat Rusia lebih di atas angin dalam upaya melemahkan oposisi secara keseluruhan. Sebab ISIS di luar pagar revolusi, sementara Nushrah adalah sekutu terkuat revolusi.

Seperti dimuat Al-Jazeera, Rusia telah mengirimkan tiga pesan dalam seminggu lalu tentang situasi di Suriah.

Pertama, menyalahkan al-Qaeda Suriah (Jabhah Nushrah) karena dituduh "melanggar dan membahayakan berlangsungnya gencatan senjata" (padahal Nushrah sendiri sejak awal tak pernah dimasukkan dalam gencatan itu, red).

"Kelompok teroris Jabhah Nushrah masih aktif di Aleppo dan Idlib saat ini, hal itu menjadi kendala utama perpanjangan lanjutan gencatan senjata", jelas kementerian pertahanan Rusia, menuduh kelompok itu memanfaatkan gencatan senjata untuk mengumpulkan kekuatan.

Kedua, Amerika Serikat (AS) juga harus disalahkan karena gagal untuk memisahkan "bagian oposisi moderat dari teroris". Rusia menuduh istilah "oposisi moderat" hanya untuk merongrong proses "perdamaian" (maksudnya melawan Assad).

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bats waktu penarikan mundur bagi Jabhah Nushrah akan berakhir pekan ini.

Ketiga, Rusia menyebut perbatasan Turki masih digunakan untuk menyelundupkan senjata kepada "teroris" di Suriah.

"Jumlah truk-truk besar yang bergerak dari perbatasan Turki-Suriah ke wilayah Azaz (provinsi Aleppo) dan Darat Izza (provinsi Idlib) telah meningkat secara signifikan", kata kementerian pertahanan.

Laporan itu juga diikuti penolakan Washington untuk menerima tawaran dari Moskow agar bekerja sama dalam "perang melawan terorisme" di Suriah (maksudnya adalah al-Qaeda yang menjadi sekutu revolusi).

Rusia tidak senang pada permainan AS. Bahkan AS juga meminta Rusia berhenti menyerang Jabhah Nushrah, karena beralasan semua sudah bercampur sehingga sulit memisahkan "orang baik dengan teroris". Hal ini buruk bagi tujuan politik memenangkan rezim Assad secepatnya.

Pernyataan-pernyataan dan sikap Moskow tersebut muncul karena suatu alasan, mereka ingin mencari pembenaran dan membuka jalan atas serangan besar-besaran terhadap Nushrah,. Kemungkinan dalam operasi militer segera yang telah direncanakan.

Media pro rezim Suriah melaporkan tentang "pemahaman dan kerjasama yang lebih baik" antara pemerintah Rusia, Iran dan Assad. Menjadi indikasi akan segera ada sesuatu di lapangan.

Sebenarnya selalu ada kerjasama, tapi beberapa minggu sebelumnya tak ada tujuan militer bersama. Kini, Jabhah Nushrah diperkirakan adalah target bersama mereka.

Tujuan militer yang ingin dicapai Moskow adalah menguasai hingga 70% wilayah Suriah sehingga memberi pengaruh mutlak dan melaksanakan pemilu legitimate (yang penting pemerintah hasil pemilu pro Rusia).

Atau meraih kemenangan signifikan untuk mengubah keuntungan di pihak rezim dukungannya dalam meja perundingan dengan oposisi (jika negosiasi berlangsung lagi) dan menunjukkan superioritas Rusia.

Sebelumnya Rusia membuka proses politik dan menginginkan hasil menguntungkan bisa segera tercapai melalui perundingan Jenewa lalu.

Itulah mengapa Moskow bersedia bekerja sama dengan Washington, serta menghentikan sementara dukungan udara pada Assad. Membuat militer rezim dan milisi Syi'ah terdesak oleh Jabhah Nushrah maupun pejuang oposisi lainnya.

Namun perundingan gagal total, ditambah faktor ekonomi, perang harga minyak dengan Saudi dan gengsi politik, membuat opsi militer Moskow di Suriah kembali terbuka.

Angkatan udara Rusia telah meningkatkan lagi keterlibatannya. serangan udara berat di Idlib dan kota Aleppo, menyasar jalur masuk ke Aleppo timur yang dikuasai oposisi. Jalan Castello terlalu berbahaya untuk perjalanan. Rusia mengirim pesan peringatan.

Tapi koalisi Jaisyul Fath yang di dalamnya termasuk Jabhah Nushrah juga mengirim pesan kemenangan di pinggiran Aleppo, dengan menghancurkan tentara Iran dan milisi Syi'ah.

Beberapa minggu yang lalu berhasil merebut kembali jalur suplai antara Idlib dan Aleppo. Tujuann mereka sekarang adalah memotong jalur suplai utama rezim Assad ke bagian kota Aleppo yang dikuasai.

Pemanasan telah terjadi, pertempuran tahap selanjutnya, baru saja akan dimulai!!

Rusia telah sadar seperti apa, serta siapa saja kelompok yang berada dalam persekutuan revolusi Suriah, dan bagaimana cara menghadapinya masing-masing. Dan melihat tradisi perang brutal Rusia, maka kemungkinan besar mereka akan tetap membunuhi warga sipil secara massal.

Sementara al-Qaeda bukanlah kelompok orang-orang yang takut mati, mereka siap menjadi pemicu dan pembawa bom yang diledakkan di tengah kerumunan musuh.

Sedangkan oposisi Suriah, 5 tahun mereka sanggup telah bertahan dalam perang, mereka juga mempunyai pendukung internasional.

Sumber: Al-Jazeera, Reuters
Oleh: Redaksi Risalah
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.