Sebuah checkpoint Israel di Tepi Barat (foto),
Seorang menteri pemerintah Israel telah menyerukan pengusiran warga Palestina dari wilayah pendudukan Tepi Barat yang saat ini berada di bawah kendali Israel.

Dalam sebuah wawancara dengan media Israel pada hari Rabu, Menteri Pertanian kontroversial Uri Ariel menyatakan bahwa Israel harus mencaplok "Area C" yang luasnya mencapai 60 % dari Tepi Barat, dimana Palestina tidak memiliki kewenangan atasnya sebagaimana seharusnya sesuai ketentuan Persetujuan Oslo.

Perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1993 itu seomestinya bermaksud memberikan landasan bagi "solusi dua negara" atas sengketa Arab (Palestina) dengan Israel (Yahudi).

Ariel, yang secara terbuka menentang berdirinya negara Palestina merdeka, mengklaim jika Israel justru harus merogoh kocek senilai USD 2,6 miliar untuk meningkatkan standar hidup warga Palestina di bagian lain Tepi Barat.

Naftali Bennet, pemimpin partai Tanah Air Yahudi, sebelumnya juga menyerukan aneksasi secara resmi seluruh Tepi Barat menjadi wilayah Israel.

Sekitar 400 ribu pemukim Yahudi saat ini menduduki Area C, atau meningkat hampir 300 ribu orang sejak perjanjian Oslo ditandatangani.

Pembangunan pemukiman Yahudi ilegal oleh Israel dipandang sebagai hambatan utama terjadinya kesepakatan damai Palestina-Israel di masa depan.

Perlawanan warga Palestina meningkat sejak tahun lalu setelah digemakan intifadah ke-3, suatu rangkaian serangan terbuka yang menyasar unsur-unsur pendudukan Israel, termasuk para pemukim Yahudi.

Pada Rabu malam, sebuah serangan penembakan di ibukota Israel, Tel Aviv telah menewaskan 4 orang dan melukai sekitar 5 lainnya.

2 lelaki Palestina ditangkap polisi Israel sebagai pelaku penembakan. Mereka berasal dari wilayah Tepi Barat yang diduduki Zionis. (Anadolu Agency/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.