Suasana masjid Al-Falah (foto CNN Indonesia),
Sejarah Kampung Jawa Tondano, Sulawesi Utara, berawal dari dibuangnya Kyai Modjo bersama sekitar 60 orang pengikutnya oleh penjajah Belanda. 

Kyai Mualim Muhammad Khalifah atau dikenal Kyai Modjo adalah Ulama sekaligus penasihat jihad bagi Pangeran Diponegoro, dibuang penjajah Belanda pada tahun 1830 sebagai tahanan politik.

Bagi Pangeran Diponegoro, Kyai Modjo, Ki Sentot Alibasa dan pengikutnya, perang melawan Belanda dan antek-anteknya adalah jihad fi sabilillah.

Pengikut Kyai yang keseluruhan adalah laki-laki akhirnya menikah dengan wanita lokal Tondano.

Para wanita asli tersebut mayoritas belum memeluk agama. Pernikahan itu menandai masuknya mereka menjadi dalam  komunitas Islam paling awal di Tondano.

Yang membedakan desain Kampung Jawa Tondano dengan kota lain di Minahasa adalah penataan jalan. Hampir semua jalan di Tondano lurus dengan banyak perempatan, persis seperti yang dapat disaksikan pada kota lain di Jawa.

Masjid Al-Falah adalah salah satu peninggalan peradaban Islam di Minahasa, dibangun pada abad ke-19 oleh orang Jawa yang diasingkan di Tondano.

Masjid ini menyisakan benda bersejarah yaitu mimbar dan empat tiang kokoh.

Kyai Modjo wafat 20 Desember 1849, dimakamkan di kompleks pemakaman Desa Wulauan, berjarak 15 menit dari Kampung Jawa Tondano.

Di pemakaman itu juga dikuburkan sejumlah pengikut dan pejuang lain yang diasingkan di Tondano.

Ada kampung Islam lain selain Kampung Jawa Tondano, yaitu Kampung Jawa Tomohon.


Kampung Jawa Tomohon
Jika Kampung Jawa Tondano berawal dari Kyai Modjo dan pengikutnya, maka Kampung Jawa Tomohon bermula dari pembuangan tujuh pemuda asal Banten yaitu Tubagus Buang, penghulu Abu Salam, Muskali, Mas Jebeng, Abdul Rais, Abdul Hayi dan Hanafi.

Secara de jure, Kampung Jawa Tomohon resmi menjadi sebuah kampung dengan pemerintahan sendiri tahun 1830. Kampung Jawa Tomohon telah lebih dulu ada dibanding Kampung Jawa Tondano.

Para tokoh Banten tersebut diyakini lebih dulu diasingkan ke Minahasa daripada Kyai Modjo dan pengikutnya, yaitu pada masa VOC. Meski ada versi lain tentang asal-usul mereka.

Meski lokasinya dikelilingi oleh perkampungan warga mayoritas Kristen, kedua kampung Jawa ini tetap eksis dan hidup damai berdampingan selama ratusan tahun. (CNN Indonesia/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.