Bendera Irael dan Turki (foto),
Israel dan Turki sepakat untuk melakukan normalisasi hubungan kedua negara, menjadi babak baru setelah militer Israel membunuh 10 aktivis pro-Palestina yang berlayar ke Jalur Gaza pada 2010.

Pengumuman resmi pemulihan hubungan dan detail kesepakatan dijadwalkan akan dilakukan pada Senin (27/6) oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Roma dan Perdana Menteri Turki Binali Yildirim di Ankara.

“Kami mencapai kesepakatan dengan Israel untuk menormalisasi hubungan bilateral pada Minggu di Roma”, kata seorang pejabat senior Turki.

Ia menggambarkan kesepakatan itu sebagai “kemenangan diplomatik” bagi Turki, meski Israel di lain pihak tetap menolak pencabutan blokade Gaza, yang menjadi salah satu persyaratan kesepakatan pemulihan. Israel memblokade Gaza dengan dalih untuk membendung Hamas dan penyelundupan senjata.

Israel dan Turki diam-diam telah memperbaiki hubungan perdagangan dan pariwisata sejak pemimpin dari kedua belah pihak berbicara lewat sambungan telepon pada 2013.

Selama enam bulan terakhir, negosiasi telah dilakukan untuk mulai menugaskan duta besar di masing-masing negara.

Pada Minggu, Netanyahu ke Roma untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry. Sementara itu, pejabat Israel dan Turki juga bertemu di ibu kota Italia itu guna mencapai kesepakatan final.

Israel telah menawarkan permintaan maaf (salah satu syarat Ankara lainnya) atas serangan terhadap kapal aktivis Mavi Marmara.

Rezim Zionis Tel Aviv juga setuju untuk membayar senilai USD 20 juta bagi korban terluka dan maupun yang meninggal pada keluarganya.

Berdasar kesepakatan itu, Turki akan memberikan bantuan kemanusiaan dan produk non-militer lainnya ke Gaza dan melaksanakan proyek-proyek infrastruktur termasuk bangunan tempat tinggal dan rumah sakit Gaza, kata pejabat senior Turki.

Langkah-langkah konkrit juga akan diambil untuk mengatasi krisis air dan listrik di Gaza.

Seorang pejabat senior Israel mengatakan, para diplomat kementerian luar negeri dari kedua negara secara terpisah akan menandatangani perjanjian itu secara bersama pada Selasa besok.

Israel diminta agar perwira militer dan pejabat pemerintahnya memberikan ganti rugi terkait tuduhan kejahatan perang itu. Pejabat Israel mengatakan bahwa uang tersebut akan dibayarkan setelah parlemen Turki mengesahkan aturan kesepatan ini.

Presiden Turki Tayyip Erdogan menyebut dirinya sendiri sebagai pengawal kepentingan Palestina dan Hamas, faksi yang mengontrol Gaza dan dicap sebagai teroris oleh Israel dan negara-negara Barat.

Secara terpisah, pejabat Israel mengatakan Erdogan akan menginstruksikan instansi terkait di Turki untuk menyelesaikan persoalan warga Israel yang hilang di Jalur Gaza.

Israel mengatakan Hamas menahan jasad dua tentara Israel yang tewas dalam Perang Gaza 2014, selain dua warga sipil lain yang juga diyakini hilang. (CNN Indonesia/Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.